بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
PERMASALAHAN
SEPUTAR
BULAN SYA’BAN
[ 1 ] Asal penamaan bulan Sya’ban
Al-Hafidz rohimahulloh mengatakan:
«شَعْبَانُ الشَّهْرُ المَعْرُوفُ، قِيْلَ سُمِّيَ بِذَلِكَ لِتَشَعُّبِهِمْ فِيْهِ أَي لِتَفَرُّقِهِمْ»
“Sya’ban adalah (nama) bulan yang ma’ruf, ada yang mengatakan: di namakan dengan hal tersebut karena pada waktu itu mereka berpencar-pencar, yakni karena mereka berpisah-pisah.” [ lihat “Muqoddimah Al-Fath” (hal.135)]
«وَسُمِّيَ شَعْبَانُ لِتَشَعُّبِهِمْ فِي طَلَبِ المِيَاهِ أَو فِي الغَارَاتِ بَعْدَ أَنْ يَخْرُجَ شَهْرُ رَجَبِ الحَرَامِ، وَهَذَا أَولَى مِنَ الَّذِي قَبْلَهُ وَقِيْلَ فِيْهِ غَيْر ذَلِكَ».
“Dinamakan Sya’ban karena pada waktu itu mereka berpencar-pencar untuk mencari air atau penyerbuan kepada musuh selepas dari bulan harom Rojab. Ini yang lebih pas daripada sebelumnya, dan ada juga yang berpendapat selain dari ini.” [lihat “Fathul Bari” (4/213)]
Al-‘Ainiy rohimahulloh mengatakan:
عَنْ ثَعْلَب كَانَ شَعْبَانُ شَهْرًا تَتَشَعَّبَ فِيْهِ القَبَائِلُ أَيّ تَتَفَرَّقَ لِقَصْدِ المُلُوكِ وَالتِمَاسِ العَطِيَّةَ».
“Dari Tsa’lab: Sya’ban adalah bulan yang para Qobilah-Qobilah berpencar untuk mendatangi raja-raja dan mencari pemberian.” [lihat “Umdatul Qori” (17/49)]
[ 2 ] Sya’ban adalah bulan yang padanya di angkat amalan seorang hamba.
عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ، لَمْ أَرَكَ تَصُومُ مِنْ شَهْرٍ مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ: «ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفَلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيْهِ الأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ العَالَمِينَ وَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ».
Dari Usamah bin Zaid rodhiyaAllohu berkata: aku berkata; Ya Rosululloh, aku tidaklah melihat engkau berpuasa pada bulan dari bulan-bulan sebelumnya seperti engkau berpuasa pada bulan Sya’ban. Beliau menjawab: “Itu adalah bulan yang kebanyakan manusia lalai darinya yaitu antara Rojab dan Romadhon. Dan ia adalah bulan yang di angkat amalan hamba kepada Robb semesta alam, dan aku menyukai di angkat amalanku dalam keadaan aku berpuasa.” [HR. An-Nasa’I, dan di hasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam “Shohih Targhib wa Tarhib” (no.1022)]
[ 3 ] Memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ
Dari ‘Aisyah rodhiyaAllohu anha mengatakan: “Tidaklah pernah aku melihat Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali pada Romadhon. Dan tidaklah pernah aku melihatnya lebih banyak berpuasa daripada ketika bulan Sya’ban.” [HR. Al-Bukhori (no.1969) Muslim]
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahulloh mengatakan:
«فَيَنْبَغِي الإِكْثَارُ مِنَ الصِّيَامِ فِي شَعْبَانَ».
“Sepantasnya untuk memperbanyak puasa di bulan Sya’ban.” [lihat “Liqoo Bab Maftuh” (9/453)]
Al-Hafidz Ibnu Rojab rohimahulloh mengatakan:
«وَقَدْ رَجَّحَ طَائِفَةٌ مِنَ العُلَمَاءِ مِنْهُمْ ابْنُ المُبَارَك وَ غَيْرُهُ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَسْتَكْمِلْ صِيَام شَعْبَانَ وَ إِنَّمَا كَانَ يَصُومُ أَكْثَرَهُ وَيَشْهَدُ لَهُ مَا فِي صَحِيْحِ مُسْلِمٍ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: مَا عَلِمْتُهُ تَعْنِي النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَامَ شَهْرًا كُلَّهُ إِلاَّ رَمَضَانَ «
“Dan telah di rojihkan oleh sekelompok dari ‘Ulama di antara mereka adalah Ibnul Mubarok dan selainnya: bahwasanya Nabi shollallohu alaihi wa sallam tidaklah puasa sebulan penuh pada bulan Sya’ban, akan tetapi beliau hanyalah kebnyakan apa yang di lakukannya adalah puasa, yang menguatkan hal tersebut adalah apa yang terdapat dalam shohih Muslim dari ‘Aisyah rodhiyaAllohu anha berkata: Aku tidaklah mengetahui -yakni Nabi shollallohu alaihi wa sallam- berpuasa sebulan penuh kecuali pada bulan Romadhon.” [Lihat “Latho’if Ma’arif” (hal.138)]
[ 4 ] Hikmah memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban.
Ash-Shon’ani mengatakan:
وَقِيلَ : كَانَ يَصُومُ ذَلِكَ تَعْظِيمًا لِرَمَضَانَ كَمَا أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ وَغَيْرِهِ { أَنَّهُ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الصَّوْمِ أَفْضَلُ فَقَالَ : شَعْبَانُ تَعْظِيمًا لِرَمَضَانَ } قَالَ التِّرْمِذِيُّ : فِيهِ صَدَقَةُ بْنُ مُوسَى وَهُوَ عِنْدَهُمْ لَيْسَ بِالْقَوِيِّ
“Ada yang mengatakan: Beliau melakukan puasa (Sya’ban) karena sebagai bentuk pengagungan bulan Romadhon, sebagaimana yang di keluarkan At-Tirmidzi dari hadits Anas dan selainnya; bahwasanya beliau bertanya kepada Rosululloh tentang puasa apakah yang paling afdhol? Beliau menjawab: “Sya’ban, sebagai bentuk pengagungan Romadhon.” At-Tirmidzi mengatakan: “Terdapat pada sanadnya Shodaqoh bin Musa, di sisi mereka dia bukanlah orang yang kuat (dalam suatu sisi)” [Subulus Salam (3/358)]
وَقِيلَ : كَانَ يَصُومُهُ { ؛ لِأَنَّهُ شَهْرٌ يَغْفُلُ عَنْهُ النَّاسُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ } " كَمَا أَخْرَجَهُ النَّسَائِيّ وَأَبُو دَاوُد وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ : { قُلْت : يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَك تَصُومُ فِي شَهْرٍ مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ فِي شَعْبَانَ قَالَ : ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ فِيهِ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ .قُلْت : وَيُحْتَمَلُ أَنَّهُ كَانَ يَصُومُهُ لِهَذِهِ الْحِكَمِ كُلِّهَا
“Ada yang mengatakan juga: Beliau puasa pada bulan tersebut (Sya’ban), karena itu adalah bulan yang manusia lalai padanya, (karena) di antara Rojab dan Romadhon. Sebagaimana di keluarkan An-Nasa’I Abu Dawud serta dishohihkan oleh Ibnu Khuzaimah dari Usamah bin Zaid aku berkata; Ya Rosululloh, aku tidaklah melihat engkau berpuasa pada bulan dari bulan-bulan sebelumnya seperti engkau berpuasa pada bulan Sya’ban. Beliau menjawab: “Itu adalah bulan yang kebanyakan manusia lalai darinya yaitu antara Rojab dan Romadhon. Dan ia adalah bulan yang di angkat amalan hamba kepada Robb semesta alam, dan aku menyukai di angkat amalanku dalam keadaan aku berpuasa.” Aku katakan: “Dan ini mungkin beliau melakukan puasa bulan Sya’ban karena sebab semua hikmah-hikmah tersebut.” [lihat “Subulus Salam” (3/359)]
[ 5 ] Puasa tathowu’ di bulan Sya’ban tidaklah ada kaitan pada waktu tertentu.
Al-‘Ainiy mengatakan:
«الأَعْمَالُ الَّتِي يَتَطَوَّعُ بِهَا لَيْسَتْ مَنُوطَةٌ بِأَوقَاتٍ مَعْلُومَةٍ وَإِنَّمَا هِيَ عَلَى قَدْرِ الإِرَادَةِ لَهَا وَالنَّشَاطِ فِيْهَا».
“Amalan yang seseorang berbuat tathuwu’ padanya tidaklah ada terkait dengan waktu yang maklum, akan tetapi ia berdasarkan keinginan untuk melakukan hal tersebut dan semangat pada waktu itu.” [lihat “Umdatul Qori” (17/52)]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar