Jumat, 12 Juni 2015

kumur2 puasa


[10:22 30/05/2015] ‪+62 857-7200-0557‬: موقع الشيخ عبدالعزيز بن باز - هل يجوز الاستنشاق والمضمضة في نهار رمضان لمن كان صائماً؟ - هل يجوز الاستنشاق والمضمضة في نهار رمضان لمن كان صائماً؟
بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله وصلى الله وسلم على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن اهتدى بهداه، أما بعد: فقد ثبت عن رسول الله عليه الصلاة والسلام أنه قال: (وبالغ في الاستنشاق إلا أن تكون صائماً) أمر بإسباغ الوضوء ثم قال: (وبالغ في الاستنشاق إلا أن تكون صائماً) فدل ذلك على أن الصائم يتمضمض ويستنشق لكن لا يبالغ مبالغة يخشى منها نزول الماء إلى جوفه، أما الاستنشاق فلا بد منه، وهكذا المضمضة لأنهما فرضان في الوضوء في حق الصائم وغيره.
[10:25 30/05/2015] ‪+62 857-7200-0557‬: Ringkasnya dari fatwa Syaikh Bin Baz, blh nya berkumur2.
Yg istinsyaq saja boleh apalagi kumur2
Yg penting tidak berlebihan, sehingga bisa menyebabkan air masuk ke hidung.
[10:25 30/05/2015] ‪+62 857-7200-0557‬: موقع الشيخ عبدالعزيز بن باز - هل يجوز الاستنشاق والمضمضة في نهار رمضان لمن كان صائماً؟ - Saya membrowsing [# LINK_TEXT #]. Silahkan lihat ! http://www.binbaz.org.sa/node/20193

niat puasa di malam hari


[7:35 30/05/2015] ‪+62 823-3105-1749‬: هل يشترط لصحة الصوم تبييت النية لكل يوم؟

السؤال:
هل كل يوم يصام في رمضان يحتاج إلى نية أم تكفي نية صيام الشهر كله؟

الجواب:
 يكفي في رمضان نية واحدة من أوله؛ لأن الصائم وإن لم ينو كل يوم بيومه في ليلته فقد كان ذلك في نيته من أول الشهر، ولكن لو قطع الصوم في أثناء الشهر لسفر أو مرض أو نحوه وجب عليه استئناف النية ؛ لأنه قطعها بترك الصيام للسفر والمرض ونحوهما.
[مجموع فتاوى ابن عثيمين(19/181)]
[7:35 30/05/2015] ‪+62 823-3105-1749‬: Fatwa syaikh ustaimin رحمه الله
Judul fatwa:
Apakah di syaratkan sahnya puasa harus dengan niat di malam harinya?
Soal :
Apakah berpuasa di bulan ramadhan membutuhkan niat untuk setiap harinya (di malam harinya) ataukah cukup sekali dengan niat untuk puasa satu bulan seluruhnya?
Jawab:
Mencukupi puasa bulan ramadhan dengan sekali niat di awal  bulan (niat puasa satu bulan langsung seluruhnya), karena seandainya orang yg berpuasa jika tidak meniatkan puasa setiap hari di malam harinya maka sungguh mencukupi hal itu niat puasa satu bulan ketika di awal bulan.
Akan tetapi jika terputus puasanya di pertengahan bulan di karenakan safar atau sakit atau semisalnya maka wajib baginya memperbarui niatnya karena terputusnya puasa dengan safar atau sakit atau yg semisalnya.
[Majmu fatawa ibn ustaimin 19/181]

mengkiblatkan mesjid


[10:31 28/05/2015] ابو ابراهيم:  Sore ini saat yang tepat untuk mengoreksi arah kiblat Anda. Data astronomi menunjukan tepat pukul 12.18 waktu Arab atau 16.18 WIB, matahari akan melintas tepat di atasb Kabah.

“Bayang-bayang benda yang berdiri tegak, pada tanggal dan jam tersebut akan mengarah tepat ke Ka’bah,” jelas Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Urais-Binsyar) Mukhtar Ali, dalam keterangan tertulisnya, seperti dikutip Dream, Kamis, 28 Mei 2015.

Menurut Mukhtar, peristiwa yang dikenal sebagai Rashdul Qiblah adalah ketentuan waktu di mana bayangan benda yang terkena sinar matahari menunjuk arah kiblat. Lewat fenomena alam ini, Kemenag mengimbau kaum muslimin dan pengurus takmir masjid/mushalla yang akan memverifikasi kesesuain arah kiblat.

Untuk dapat melakukan penyesuaian arah kiblat, lakukan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Menentukan lokasi masjid, mushalla, langgar, atau rumah yang akan diluruskan arah kiblatnya. Sediakan tongkat lurus panjang 1 sampai 2 meter dan peralatan untuk memasangnya. Siapkan juga jam/arloji yang sudah dikalibrasi waktunya secara tepat dengan radio/televisi/internet

2. Cari lokasi di samping atau di halaman masjid yang masih mendapatkan penyinaran matahari pada jam-jam tersebut serta memiliki permukaan tanah yang datar. Pasang tongkat secara tegak dengan bantuan pelurus berupa tali dan bandul.

3. Saat rashdul qiblah berlangsung amatilah bayangan matahari yang terjadi (toleransi +/- 2 menit). Di Indonesia peristiwa rashdul qiblah terjadi pada sore hari sehingga arah bayangan menujuu ke Timur. Sedangkan bayangan yang menuju ke arah Barat agak serong ke Utara merupakan arah kiblat yang tepat;

4. Gunakan tali, susunan tegel lantai, atau pantulan sinar matahari menggunakan cermin untuk meluruskan lokasi ini ke dalam masjid/rumah dengan menyejajarkannya terhadap arah bayangan.

Mukhtar menambahkan bahwa selain tongkat lurus, menara, sisi selatan bangunan masjid, tiang listrik, tiang bendera, atau benda lain yang tegak juga bisa digunakan untuk melihat bayangan.
------------
Apakah syar'i cara ini ?
[14:46 28/05/2015] ‪+62 812-3408-650‬: Dengan jelasnya arah kiblat Maka yg jadi pertanyaan untuk masjid /musalla yg sudah berdiri namun bergeser dari arah keblat yg sebenarnya apakah harus di sesuaikan arahnya atau cukup safnya saja yg di sesuaikan ya ustaz.
[14:56 28/05/2015] فؤاد حسن الأندونيسي: Asy-Syaikh Abdul Hamid Al-Hajuri

إذا تبين أن القبلة تغيرت شيئاً ما، يعني ميولة يسيرة،  فهل يلزمنا أن نميل أم نبقى على ما هي من قبل؟

Soal: Apabila telah jelas bahwa arah kiblat bergeser sedikit, apakah mengharuskan kita bergeser atau kita teruskan ke arah kiblat yang sebelumnya?

القليل لا يؤثر
"Sesuatu yang sedikit tidaklah memberikan perubahan."
[15:28 28/05/2015] Abu Hudzaifah Ismail: Bismillaah. Afwan ustadz Fuad, ada pertanyaan. Bagaimana jika sebuah masjid kiblatnya bergeser dari arah kiblat sebesar 37 derajat? Apa hukum sholat di masjid tersebut?
[16:39 28/05/2015] فؤاد حسن الأندونيسي: Asy-Syaikh Abdul Hamid Al-Hajuri

إذا كان الميولة حوالي 37 درجة، كيف صحة الصلاة في ذلك المسجد؟ وماذا يفعلون؟

Soal: Apabila kemiringan (melencengnya arah kiblat) sekitar 37 derajat, maka apakah sah sholat orang yang di masjid tersebut?  dan apa yang harus mereka lakukan?

بعد العلم لابد من الاتجاه الصحيح
Jawab: "setelah kita mengetahui, maka harus mengarahkan kepada arah yang benar."

makan serangga dan semut


Tanya Jawab bersama Asy-Syaikh Abdul Hamid Al-Hajuri

ما حكم أكل الحشرات التي قد جربت أنها شفاء على بعض المرض؟

Soal: Apa hukum makan serangga yang telah di uji coba bahwasanya dia bisa menyembuhkan sebagian penyakit?

الأصل الإباحة هو الذي خلق لكم ما في الارض جميعا

Jawab: Asalnya adalah boleh, [Allah ta’ala berfirman]
"Dia lah yang telah menciptakan bagi kalian apa-apa yang di bumi untuk kalian."

كيف اذا كان النمل؟
Soal: Bagaimana kalau hal itu (serangga) adalah semut?

النمل نهى النبي عن قتله وما نهى النبي عن قتله فهو حرام

Jawab: "Semut, Nabi telah melarang untuk membunuhnya,  dan apa-apa yang dilarang Nabi untuk dibunuh maka dia harom."

10 /Sya'ban /1436 Hijriyah

hadits doif tt ramadan


[15:25 27/05/2015] ‪+62 823-3105-1749‬:  أحاديث رمضانية مشهورة لا تصح ؟

🔹أولا : حديث (( شهر رمضان أوله رحمه و أوسطه مغفرة و آخره عتق من النار ))
🔸حديث منكر .
📕أنظر : سلسلة الأحاديث الضعيفة والموضوعة للألباني 2 / 262

🔹ثانيا : حديث (( صوموا تصحوا ))
🔸حديث ضعيف .
📕أنظر :سلسلة الأحاديث الضعيفة والموضوعة للألباني 1 / 420 .

🔹ثالثا : حديث (( من أفطر يوما من رمضان من غير عذر ولامرض لم يقضه صوم الدهر وإن صامه ))
🔸حديث ضعيف .
 📕ضعيف سنن الترمذي للألباني


🔹رابعا : حديث (( إن لله عند كل فطر عتقاء من النار ))
🔸حديث ضعيف .
📕أنظر : كتاب تنزيه الشريعة
 للكناني 2 / 155


🔹خامسا : حديث (( لو يعلم العباد مافي رمضان لتمنت أمتي أن يكون رمضان السنة كلها ، إن الجنة لتتزين لرمضان من رأس الحول إلى الحول ……الخ ))
🔸حديث ضعيف .
📕أنظر : كتاب الموضوعات لابن الجوزي 2 / 188



🔹سادسا : حديث (( اللهم بارك لنا في رجب و شعبان و بلغنا رمضان ))
🔸حديث ضعيف .
📕ضعيف الجامع للألباني


🔹سابعا : حديث أن النبي صلى الله عليه و سلم كان يقول عند الإفطار : (( اللهم لك صمت و على رزقك أفطرت ))
🔸حديث ضعيف .
 📕ضعيف الجامع للألباني


✒️ دئماً تثبت قبل النشر...
[15:25 27/05/2015] ‪+62 823-3105-1749‬: Hadits-hadits ramadhan yang masyhur tapi tidak shohih?

🔹pertama: hadits
 ((شَهْر رمضان أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ وَ أَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَ آخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّار))
Bulan ramadhan adalah bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya magfirah (pengampunan) dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka.
🔸hadits mungkar
📕lihat: silsilah alhadits addhoifah wal maudhuah syaikh albani 2/262

🔹kedua: hadits
(( َصُوْمُوْا تَصِحُّوْا ))
puasalah niscaya kalian akan sehat
🔸hadits dhoif
📕lihat: silsilah alhadits addhoifah wal maudhuah syaikh albani 1/420

🔹ketiga: hadits
(( مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ رُخْصَةٍ وَلَا مَرَضٍ لَمْ يَقْضِعَنْهُ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ وَإِنْ صَامَهُ ))
“Barangsiapa yang berbuka sehari di bulan Ramadhan tanpa adanya rukhshah (keringanan/udzur yang dibenarkan syariat) dan tidak pula karena sakit maka dia tidak bisa mengqadha ( mengganti utang puasa tersebut ) walaupun dia berpuasa setahun penuh”.
🔸hadits dhoif
📕dhoif sunan tirmidzi oleh syaikh albani

🔹keempat: hadits
(( إن لله عند كل فطر عتقاء من النار))
“sesungguhnya disetiap berbuka puasa, ALLOH membebaskan (hambanya) dari api neraka.
🔸hadits dhoif
📕lihat: kitab tanzih assyariyyah oleh kanani 2/155

🔹kelima: hadits
(( لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُمَا رَمَضَانُ لَتَمَنَّتْ أُمَّتِيْ أَنْ يَكُوْنَ السَّنَةَ كُلَّهَا))
“Seandainya para hamba mengetahui apa (hakikat) bulan Ramadhan maka tentu ummatku menginginkan Ramadhan itu sepanjang tahun
🔸hadits dhoif
📕lihat: kitab almaudhuat oleh ibnul jauzi 2/188

🔹keenam: hadits
(( اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَ بَلِّغْنَا رَمَضَانَ
“Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban serta perjumpakanlah kami dengan bulan Ramadhan”
🔸hadits dhoif
📕dhoiful jami' oleh syaikh albani

🔹ketujuh : hadits
Bahwasanya nabi صلى الله عليه و وسلم ketika berbuka berkata:
(( اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت))
“Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa,atas rezeki-Mu aku berbuka
🔸hadits dhoif
📕dhoiful jami' oleh syaikh albani

✒senantiasalah tasabbut (mencari kebenaran) sebelum menyebarkan...ِ

selamat datang ramadan


[15:22 26/05/2015] ‪+62 823-3105-1749‬: تطبيق فتاوى بن عثيمين رحمه الله - حكم التهنئة بدخول شهر رمضان

[ السؤال: ]

فضيلة الشيخ، هل وردت تهنئة بدخول شهر رمضان، وإذا هنأني شخص ماذا أقول له؟ وجزاك الله خيراً.

الجواب :

ورد عن السلف أنهم كانوا يهنئون بعضهم بعضاً في دخول رمضان ولا حرج في هذا، فيقول مثلاً: شهر مبارك، أو بارك الله لك في شهرك، أو ما أشبه ذلك، ويرد عليه المهنأ بمثل ما هنأه به، فيقول مثلاً: ولك بمثل هذا، أو يقول: وهو مبارك عليه، أو ما يحصل به تطييب خاطر المهنئ.


المصدر: سلسلة اللقاء الشهري > اللقاء الشهري [70]


الصيام > مسائل متفرقة في الصيام


 رابط المقطع الصوتي
http://zadgroup.net/bnothemen/upload/ftawamp3/mm_070_15.mp3
[15:23 26/05/2015] ‪+62 823-3105-1749‬: 💎Fatwa Syaikh Ustaimin رحمه الله

🔊Judul Fatwa:
Hukum ucapan selamat karena masuknya bulan romadhon

📡Pertanyaan:
Fadhilatus syaikh..
Apakah telah datang (dalil) tentang ucapan selamat karena masuknya bulan romadhon,
Jika seseorang mengucapkan selamat kepada saya,maka apa yg harus saya katakan kepadanya?

🎁Jawaban:
Telah datang dari as-salaf bahwasanya mereka dahulu sebagiannya mengucapkan selamat kepada sebagian yg lain karena masuknya bulan romadhon,
dan hal ini tidak mengapa
seperti mengatakan:
شهر مبارك atau بارك الله لك في شهرك
atau yg semisal itu.
Dan kita balas atas orang yg mengucapkan selamat dengan yg semisal yg dia katakan,seperti mengatakan:
ولك
atau yg semisal ini.
atau mengatakan:
وهو مبارك عليه
atau sesuatu ucapan yg dapat terhasilkan dengannya kebaikan kepada kemauan pemberi ucapan.
🔊🔉🔈👄📢📣


[16:55 27/05/2015] ‪+62 823-3105-1749‬: عنوان الفتوى: حكم التهنئة بقدوم رمضان(1)

السؤال: ما حكم التهنئة بقدوم رمضان؟

الإجابة: لا نعلم دليلًا يثبت على ذلك؛ فنوصي بترك ذلك.

----------------------
(1) أسئلة عبر الهاتف من سيئون، وتاريخ الفتوى غير مذكور في الشريط.. دماج - دار الحديث.


تم ارسال هذه الرسالة عن طريق برنامج مجموع فتاوى الشيخ يحيى الحجوري:  http://market.android.com/details?id=com.musa.fatwa_alhajoori

[16:55 27/05/2015] ‪+62 823-3105-1749‬: 💎Fatwa syaikh yahya al-hajury حفظه الله

🔊Judul Fatwa:
Hukum ucapan selamat karena datangnya bulan romadhon

📡Pertanyaan:
Apa hukum ucapan selamat karena datangnya bulan romadhon?

🎁Jawaban:
Kami tidak mengetahui dalil yg menetapkan atas hal itu,
Maka kami nasehatkan untuk meninggalkan hal itu.
🔊🔉🔈👄📢📣

urungkan niat berbuka


[9:14 25/05/2015] ‪+62 823-3105-1749‬: تطبيق فتاوى بن عثيمين رحمه الله - نوى الفطر ثم عدل عن نيته فهل يتم صومه؟

[ السؤال:

رجل نوى أن يفطر في رمضان وهو مسافر، ثم غير نيته فأراد إتمام صيامه، هل يعتبر صائماً أم مفطراً؟

الجواب:

إذا نوى فإن عزم النية، أي: نوى أنه أفطر فإنه لا يتم صومه؛ لأن الصوم نية، وأما إذا قال: يمكن أن أفطر إن اشتد الحر عليّ، أو ما أشبه ذلك، ولكنه لم يفطر فإنه يتم صومه، فالكلام على عزمه إن عزم أفطر، وإن لم يعزم فإنه لا يفطر.


المصدر: سلسلة اللقاء الشهري > اللقاء الشهري [30]


الصيام > النية في الصيام


 رابط المقطع الصوتي
http://zadgroup.net/bnothemen/upload/ftawamp3/mm_030_20.mp3
[9:16 25/05/2015] ‪+62 823-3105-1749‬: Fatwa Syaikh Ustaimin رحمه الله

Judul Fatwa:
Seseorang berniat berbuka (membatalkan puasa) kemudian berpaling (kembali) dari niat tsb,
apakah dia meneruskan (menyempurnakan) puasa?

Soal:
Seseorang berniat membatalkan puasa ramadhan dalam keadaan safar kmd merubah niatnya tsb sehingga ingin menyempurnakan puasa,
apakah dia dianggap masih berpuasa atau telah batal puasanya?

💫Jawab:
Jika dia berniat maka sesungguhnya keputusan atau tekadnya merupakan niat, artinya ketika dia berniat membatalkan puasa maka tidak perlu menyempurnakan puasa (telah batal puasanya), karena puasa merupakan niat.
Adapun jika dia berkata:
"Mungkin saya berbuka jika keadaan yg sangat panas menimpaku", atau (perkataan) yg semisal itu, akan tetapi dia tidak berbuka maka dia menyempurnakan puasanya (puasanya tidak batal).

Maka pokok pembicaraan/pembahasan yaitu atas tekadnya,
Jika bertekad berbuka maka dia telah membatalkan puasanya
Jika tidak bertekad berbuka maka tidak batal puasanya.
🍏🍋🍈
[9:17 25/05/2015] ‪+62 823-3105-1749‬: تطبيق فتاوى بن عثيمين رحمه الله - هل يفطر من نوى الفطر في رمضان ثم لم يجد ما يفطر عليه

السؤال:

رجل مسافر وصائم في رمضان، نوى الفطر، ثم لم يجد ما يفطر به، ثم عدل عن نيته وأكمل الصوم إلى المغرب، فما صحة صومه؟

الجواب:

صومه غير صحيح ويجب عليه القضاء؛ لأنه عندما نوى الفطر أفطر، أما لو قال: إن وجدت ماءً شربت وإلا فأنا على صومي ولم يجد الماء، فهذا صومه صحيح؛ لأنه لم يقطع النية ولكنه علّق الفطر على وجود الشيء، ولم يوجد الشيء فبقي على نيته الأولى.


السائل:

كيف نرد على من يقول: إنه لم يقل أحد من العلماء: إن النية من المفطرات؟



الشيخ:

نقول للذي قال هذا: إنه لا يعرف عن كتب أهل العلم شيئاً -كتب أهل العلم في الفقه والمختصرات- ففي زاد المستقنع يقول: ومن نوى الإفطار أفطر، وأنا يا إخواني أحذركم من غير العلماء الراسخين المعروفين بالتقدم في العلم، وأحذركم منهم إذا قالوا، فلم يعلم قائلاً بذلك، أو لم يقل أحد بذلك؛ لأنهم قد يكونون صادقين؛ لأنهم لا يعرفون كتب أهل العلم ولم يطالعوها، ولا يعرفون عنها شيئاً، فلذلك هذا الذي تقول: إنه لم يقل أحد بذلك مع إنه في مختصرات الفقه: (من نوى الإفطار أفطر) ثم لو فرضنا إنه لم يوجد في كتب أهل العلم أليس النبي -صلى الله عليه وسلم- يقول:« إنما الأعمال بالنيات »؟ بلى، قال ذلك، فإذا كان يقول: (إنما الأعمال بالنيات) وهذا الرجل نوى الإفطار هل يفطر؟ نعم، يفطر.


المصدر: سلسلة لقاءات الباب المفتوح > لقاء الباب المفتوح [29]


الصيام > النية في الصيام
الصيام > مفسدات الصوم


 رابط المقطع الصوتي
http://zadgroup.net/bnothemen/upload/ftawamp3/od_029_17.mp3
[9:19 25/05/2015] ‪+62 823-3105-1749‬: Fatwa Syaikh Ustaimin رحمه الله

Judul Fatwa:
Apakah telah batal puasanya bagi seseorang yg berniat berbuka ketika ramadhan kemudian tdk mendapati sesuatu untuk berbuka atasnya?

🍏Soal:
Seseorang musafir dalam keadaan berpuasa ramadhan.
Dia berniat berbuka kemudian tdk mendapati sesuatu utk berbuka, kmd dia berpaling (kembali) dari niatnya dan menyempurnakan puasanya smp maghrib,
Apakah puasanya sah?

🚫Jawab:
Puasanya tidak sah dan wajib atasnya menqodho' puasanya, karena ketika dia berniat berbuka maka telah batal puasanya.

➖Adapun seandainya dia berkata:
"Jika saya mendapati air utk aku minum (maka aku akan berbuka), dan jika aku tidak mendapati air maka aku akan tetap berpuasa",
kmd dia tidak mendapati air, maka puasanya tetap sah,
karena niatnya tdk terputus dimana dia menggantungkannya/mengaitkannya dengan adanya sesuatu (air), dan dia tdk mendapati sesuatu (air utk berbuka) maka dia tetap di atas awal niatnya.

Penanya berkata:
Bgmn kita membantah atas orang yg berkata "sesungguhnya tdk ada seorang ulamapun yg mengatakan
••bahwa niat termasuk pembatal puasa?••"

✔Syaikh ustaimin menjawab:
Kita bantah atas orng yg mengatakan demikian.
Sesungguhnya dia tdk mengetahui sedikitpun dari kutub ahlu ilmi fiqh.
Dimana dalam zada al-mustaqni' dikatakan
""Barang siapa berniat berbuka maka telah batal puasanya"

Dan saya (as-syaikh) wahai.. saudaraku.. memperingatkan kalian dari ulama terdahulu yg terkenal yg tdk mendalam ilmunya.
Dan saya memperingatkan kalian dari mereka ketika mereka berkata (tentang sesuatu) akan tetapi mereka tidak berilmu sedikitpun atasnya.
Karena mereka tdk mengetahui kutub ahlu ilmi dan mereka tdk mau mencarinya dan tdk mengetahuinya sedikitpun.
Oleh karena itu (jika) ini yg kamu katakan maka didalam ringkasan ilmu fiqh telah dikatakan:
""Barang siapa berniat berbuka maka telah batal puasanya"

Kemudian jika kita mengasumsikan bahwa dia tdk mendapati dalam kutub ahlu ilmi, bukankah nabi صلى الله عليه و وسلم berkata
« إنما الأعمال بالنيات »
Bukankah begitu?
Maka jika telah berkata « إنما الأعمال بالنيات » 《sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya》 dan seseorang telah berniat berbuka.
Bukankah dia telah batal?
Benar,telah batal.
🚫   🚫

sholat malam berjamaah luar ramadhan


[6:38 25/05/2015] ‪+62 812-3408-650‬: Ada yg bertanya hukumnya shalat tahajud dengan berjama'ah (mistalnya suami dan istri) boleh apa tidak.

[7:06 25/05/2015] فؤاد حسن الأندونيسي: Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahulloh mengatakan:

«التَّراويحَ في غير رمضان بِدْعةٌ ، فلو أراد النَّاس أنْ يجتمعوا على قيام الليل في المساجد جماعة في غير رمضان لكان هذا من البِدع .ولا بأس أن يُصلِّي الإنسانُ جماعة في غير رمضان في بيته أحياناً ؛ لفعل الرسول صلى الله عليه وسلم : " فقد صَلَّى مرَّةً بابن عبَّاس ، ومرَّةً بابن مسعود ومرَّةً بحذيفة بن اليمان ، جماعة في بيته " لكن لم يتَّخذْ ذلك سُنَّة راتبةً ، ولم يكن أيضاً يفعله في المسجد» .

 “Sholat Teraweh selain bulan Romadhon adalah bid’ah, kalau seandainya orang-orang hendak berkumpul untuk melaksanakan Qiyamul Lail di masjid secara jama’ah selain bulan Romadhon, maka hal tersebut termasuk dari bid’ah. Dan tidaklah mengapa bagi seorang untuk sholat secara jama’ah selain bulan Romadhon di rumahnya dengan kadang-kadang, sebagaimana perbuatan Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam; yang beliau pernah sholat pada suatu hari dengan Ibnu ‘Abbas, dan pernah suatu kali dengan Ibnu Mas’ud, pernah suatu kali juga dengan Hudzaifah Ibnul Yaman secara jama’ah di rumahnya. Akan tetapi tidaklah dijadikan hal tersebut sunnah rotibah, dan beliau tidaklah pernah juga melakukannya di masjid.” [lihat “Asy-Syarhul Mumti’” (4/60-61)]

awas ahlul bid'ah


🎁 Untukmu sebuah hadiah, dari para salaf berupa celaan thdp Ahlu bid'ah 💐

🚲 Berkata Abu Jauzaa رحمه الله تعالى : sungguh-sungguh, aku bermajelis dgn sekelompok babi lebih aku cintai daripada bermajelis dgn satu orang (saja) dari kalangan ahlu bid'ah.
📒 As-$iyar (tahdzibiyyah) 2/512.
 🌿🌿🌿🌴🌿🌿🌿🌿
💍 berkata Sufyan Ats-tsauri رحمه الله عنه: barangsiapa yg menghadapkan pendengarannya/telinganya (utk mendengarkan) apa-apa yg dikatakan ahlu bid'ah : maka sunnah dia TELAH KELUAR DARI PENJAGAAN ALLAH (TERHADAP DIRINYA) DAN URUSANNYA AKAN DISERAHKAN KEPADANYA (BIDAH DAN AHLU BID'AH KARENA ALLAH تعالى TELAH BERLEPAS DIRI DARINYA)
📓 Syarhu Sunnah 126-129
👆👆👆👆👆👆👆👆
⭐ berkata Sufyan Ats-tsauri رحمه الله تعالى : barangsiapa yg mendengar dari mubtadi' (@hlu bid'@h) maka ALLAH تعالى tidak akan memberikan manfaat dengan apa-apa yg dia dengar tsb (dari ahlu bid'ah) dan barangsiapa yg berjabat tangan dgn ahlu bid'ah maka sungguh dia telah merusak (SYAREAT) ISLAM SEUTAS DEMI SEUTAS.
📚 Talbisu Iblis /27
☝☝☝☝☝☝☝☝
🌺 Dari Muammal bin Ismail berkata : ketikameninggal Abdul Aziz bin Abi Daud dan aku (pada saat itu) berada disamping jenazahnya sampai diletakkan disamping pintu shafa, kemudian manusia bershaf
 (Utk bersiap melakukan shalat jenazah), lalu datanglah Ats-tsauri رحمه الله تعالى, kemudian manusia berkata : telah datang Ats-tsauri, lalu beliau berlalu sehingga melewati shaf tsb (tidak mau masuk shaf utk melakukan shalat jenazah), kemudian manusia memandang dirinya, dan beliaupun melewati jenazah tsb (tanpa ada rasa pemuliaan padanya) dan tidak menshalatinya, DISEBABKAN KARENA JENAZAH TSB TERJATUH PADA PEMAHAMAN MURJIAH.
📖 talbisu iblis /27

✋✋✋✋
🌷 berkata Abu Qilabah رحمه الله تعالى : sesungguhnya ahlu ahwaa adalah AHLU Dhalal dan aku tidak melihat tempat kembali mereka kecuali kepada neraka.
📖(@$y-$yariah /72)
💥💥💥💥💥💥💥💥
⌛berkata Ahmad bin Sinan Al-qaththan رحمه الله تعالى: tidak ada didunia ini seorang MUBTADI' kecuali dia membenci ahlu hadits, maka apabila seseorang melakukan KEBID'AHAN maka akan tercabut kelezatan hadits dari hatinya.
📒 Aqidatus salaf wa ashhabul hadits /298,299
🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿
🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴
ذم المبتدعة :
قال أبو الجوزاء رحمه الله: لأن أجالسَ الخنازير أحبُّ إليَّ من أن أجالسَ أحدًا من أهل الأهواء. [السير (تهذيبه) 2/512].
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
 ذم المبتدعة
 : قال سفيان الثوري رحمه الله: مَن أَصغى بإذنه إلى صاحب بدعة: خرج من عصمة الله، ووُكِلَ إليها ـ يعني: على البدع ـ. [شرح السُّنَّةِ 126 -129].
👆👆👆👆👆👆👆👆
ذم المبتدعة : قال سفيان الثوري رحمه الله: من سمع من مبتدع لم ينفعه الله بما سمع ومن صافحه فقد نقض الإسلام عروة عروة. [تلبيس إبليس / 27].
☝☝☝☝☝☝☝☝

ذم المبتدعة : عن مؤمل بن إسماعيل قال: مات عبد العزيز بن أبي داود وكنت في جنازته حتى وضع عند باب الصفا فصف الناس وجاء الثوري رحمه الله فقال الناس: جاء الثوري، فجاء حتى خرق الصفوف والناس ينظرون إليه فجاوز الجنازة ولم يصل عليه لأنه كان يرمي بالإرجاء. [تلبيس إبليس / 27].
✋✋✋✋✋✋✋✋
ذم المبتدعة : عن أبي قلابة رحمه الله أنه كان يقول: إن أهل الأهواء أهل الضلالة، ولا أرى مصيرهم إلا إلى النار. [الشريعة / 72].
💥💥💥💥💥💥💥💥
 ذم المبتدعة :
قال أحمد بن سنان القطان رحمه الله: ليس في الدنيا مبتدع إلاَّ وهو يبغض أهل الحديث، فإذا ابتدع الرجل نُزعت حلاوة الحديث من قلبه. [عقيدة السلف وأصحاب الحديث / 298، 299].
🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿

alfatihah dlm sholat


[19:19 24/05/2015] ‪+62 878-3548-4507‬: ada soal ustadz .
mhon faedahnya

apakah makmum membaca fatihah dibelakang imam yang sholat jahr ?

[21:56 24/05/2015] فؤاد حسن الأندونيسي: CATATAN SEPUTAR AL-FATIHAH

[ 1 ] Hukum membaca Al-Fâtihah adalah rukun dari rukun-rukun sholât dan diwajibkan pada setiap roka’at, berdasarkan hadits ‘Ubâdah bin Ash-Shômit rodhiyaAllôhu anhu, bahwasanya Rosûlullôh shollâllohu alaihi wa sallam bersabda:
﴿ لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ ﴾
“Tidak dianggap sholât bagi orang yang tidak membaca surat Al-Fâtihah.” [HR. Al-Bukhôrî (no.756) Muslim (no.394) Al-Humaidi (no.386) Ahmad (5/314) Abu Dawud (no.822) An-Nasa’I (2/137) Ibnu Majah (no.837) Ad-Darimi (1/283) Ibnu Khuzaimah (no.488) Ad-Daruquthni (1/321) Abu ‘awwanah (2/124-125) Al-Baihaqi “dalam sunan” (2/34) Al-Baghowi (no.576) Asy-Syâfi’î dalam “Al-Umm” (no.206) dan dalam “Musnad”nya (1/75) dari jalur Az-Zuhri dari Mahmud bin Ar-Robi’, dari ‘Ubbadah bin Ash-Shomit secara marfu’.]

Berkata Abû ‘Umar Ibnu ‘Abdil Bar Al-Andalusî a: “Maka ditetapkan dengan nash ini tentang wajibnya membaca Al-Fâtihah pada setiap sholât bagi siapa saja yang mampu melakukannya.” lihat At-Tamhîd (3/157)

Makna sabda Nabi shollâllohu alaihi wa sallam “Lâ Sholâta”: “yakni mencakup semua sholât, yang wajib maupun yang sunnah, dan sholât yang mempunyai rukû’, begitu pula sholât yang tidak ada rukû’ dan sujûd, misalkan sholât jenazah.” Lihat Syarh Al-Bukhôrî, Syaikh ‘Utsaimîn (3/240)

[ 2 ] Permasalahan: Apakah diwajibkan membaca Al-Fâtihah pada setiap roka’at? Telah berpendapat mayoritas ‘ulamâ tentang wajibnya membaca Al-Fâtihah pada setiap roka’at, mereka berdalîl dengan hadîts yang mengkisahkan orang yang jelek sholâtnya, dan Nabi shollâllohu alaihi wa sallam bersabda:
﴿… ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِيْ صَلاَتِكَ كُلِّهَا ﴾
“Kemudian kamu melakukan yang demikian itu pada sholâtmu seluruhnya.” HR. Al-Bukhôrî (no.715) Muslim (no.397) Ahmad (no.9352) Abû Dâwud (no.856) At-Tirmidzî (no.303) An-Nasâ’î (no.884) Ibnu Mâjah (no.1060)

Adapun makna sabda Nabi shollâllohu alaihi wa sallam: “Tsummaf‘al dzâlika” yang diisyaratkan didalamnya adalah membaca bacaan dalam sholât, rukû’, bangkit dari rukû’, sujûd, bangkit dari rukû’, sujûd kedua kalinya, kemudian bangkit untuk berdiri, adapun takbîr itu tidak masuk kedalamnya karena hanya untuk ihrôm (pengharoman) saja. Lihat Fath Dzil Jalâli wal Ikrôm, Syaikh ‘Utsaimîn (3/12-13)

Dan berpendapat Ibrôhîm An-Nakho’î, Ats-Tsaurî dan Abû Hanîfah tentang tidak wajibnya membacanya kecuali pada dua roka’at yang awal sebagaimana diriwayatkan dari ‘Alî  rodhiyaAllôhu anhu bahwasanya dia berkata:
﴿اقْرَأْ فِيْ الأُولَيَيْنِ وَسَبِّحْ فِي الأُخَرَيَيْنِ﴾
“Bacalah pada dua yang awal dan bertasbihlah pada dua yang terakhir.” Dan pendapat yang benar adalah pendapat jumhûr, dan yang menguatkan pendapat jumhur adalah hadits Abu Qotadah:
أَنَّ النَّبِيَّ  eكَانَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ فِيْ الأُوْلَيَيْنِ بِأُمِّ الكِتَابِ وَسُوْرَتَيْنِ وَفِيْ الرَّكْتَعَيْنِ الأُخْرَيَيْنِ بِأُمِّ الكِتَابِ ، وَيُسْمِعْنَا الآيَةَ ، وَيُطَوِّلُ فِي الرَّكْعةِ الأُولَى مَالاَ يُطَوِّلُ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ، هَكَذَا فِي العَصْرِ، وَهَكَذَا فِي الصُّبْحِ
“Bahwasanya dulu Nabi shollâllohu alaihi wa sallam membaca pada sholât dzuhur pada dua roka’at yang awal dengan Al-Fâtihah dan dua surat, dan pada dua roka’at yang terakhir membaca dengan Al-Fâtihah, dan terkadang-kadang beliau memperdengarkan kepada kami ayat, dan beliau memanjangkan roka’at pertama yang mana tidak memperpanjangnya pada roka’at kedua, dan ini beliau lakukan pada sholât Ashr dan begitu juga sholât shubuh.” HR. Al-Bukhôrî (no.776) dan ini lafadznya. Muslim (no.451)

[ 3 ] Permasalahan: Hukum membaca Al-Fâtihah bagi ma’mûm!!! Pada permasalahan ini ada 3 pendapat;

(A) Seorang ma’mum tidak membaca sekali, sama saja apakah dia disaat sholât siriyyah (tidak dikeraskan) atau jahriyah (yang dikeraskan) sebagaimana hadîts Jâbir:
﴿مَنْ كَانَ لَهُ إِمَامٌ فَإِنَّ قِرَاءَةَ الإِمَامِ لَهُ قِرَاءَةً﴾
“Barang siapa yang ada padanya seorang Imâm, maka bacaan Imâm adalah bacaannya.” HR. Ibnu Mâjah (no.850) Dan ini adalah pendapat Sufyân Ats-Tsaurî, kebanyakan dari Ashhâbul Kûfah, dan ini adalah madzhab Abû Hanîfah.

(B) Bahwasanya seorang ma’mûm membaca pada sholât siriyyah, dan tidak membaca Al-Fâtihah pada sholât jahriyah, berdalîlkan dengan firman Allôh ta’ala:
{وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (204)} [الأعراف: 204]
 “Dan apabila dibacakan Al-Quran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” [QS. Al-A’rof:204]

ini adalah pendapat Az-Zuhrî, Mâlik, ‘Abdullôh bin Al-Mubârok, Ahmad bin Hanbal, Ishâq, Asy-Syâfi’î dalam “Al-Qodîm”, Muhammad murid Abî Hanîfah dan ini yang dipilih oleh Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyyah rohimahullôh.

(3) Bahwasanya Ma’mûm membaca pada sholât siriyyah serta membaca Al-Fâtihah pada sholât jahriyah dengan keumuman hadîts-hadîts tentang permasalahan ini, ini adalah pendapat Makhûl, Al-Auza’î, Ibnu ‘Aun, Al-Auza’î, Abî Tsaur dan ini madzhab Al-Bukhôrî.

Berkata Syaikhuna Muhammad bin Hizâm hafidzohullâh: “Pendapat yang terakhir adalah pendapat yang benar dengan dalîl hadîts-hadîts pada babnya, dan adapun dalîl pendapat pertama adalah lemah, datang dari jalur Jâbir Al-Ju’fî dan dia adalah pendusta, dan datang dari jalur lain dengan mursal, berkata Al-Hâfidz Ibnu Katsîr tdalam tafsîrnya: “Hadîts ini datang dari jalur-jalur yang tidak sah didalamnya dari Nabi shollâllohu alaihi wa sallam. Dan adapun dalîl pendapat kedua adalah umum dan dalîl kami adalah khusus, dan tidak memalingkan antara umum dan khusus, dan telah dikuatkan pendapat ketiga oleh Syaikh kami Muqbil Al-Wâdi’î rohimahullôh dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimîn rohimahullôh. (Selesai)

Akan tetapi dalîl pendapat pertama dihasankan oleh Syaikh Al-Albânî dalam sunan Ibnu Mâjah (no.850) dan datang dengan mursal dari ‘Abdullôh bin Syaddâd. Dan telah ada nash dari Asy-Syâfi’î rohimahullôh tentang bolehnya menggunakan mursal semacam ini sebagai hujjah. Lihat Ashl Shifat (1/345)

[ 4 ] Permasalahan: Melirihkan atau mengeraskan basmalah ketika akan membaca Al-Fâtihah?

Pada permasalahan ini adalah yang terbanyak perselisihannya diantara para ahli fiqh, sampai mereka membuat kitâb-kitâb, diantaranya adalah Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibbân, Ad-Dâruquthnî, Al-Baihaqî, Ibnu ‘Abdil Barr dan lain-lainnya.

[A] Dan pendapat yang mengatakan untuk melirihkan adalah pendapat kebanyakan ahlul ‘ilmi dari shohâbat Nabi rodhiahullôhu anhum diantaranya Abû Bakr, ‘Umar, ‘Utsmân, ‘Alî dan selain mereka, dan dari setelahnya dari Tâbi’în, dan ini juga pendapat Sufyân Ats-Tsaurî, Ibnul Mubârok, Ahmad, Ishâq, Abî ‘Ubaid.

[B] Dan pendapat yang mengeraskan adalah pendapat Asy-Syâfi’î beserta pengikutnya, Abû Tsaur, Al-Laits bin Sa’ad, Makhûl, ‘Umar bin ‘Abdil ‘Azîz, Muhammad bin Ka’ab Al-Qurdzî, berkata Al-Baihaqî: kami meriwayatkan dari Fuqohâ’ Makkah adalah ‘Athô’, Thôwûs, Mujâhid dan Sa’îd bin Jubair, berkata Imâm Ahmad: kebanyakan ahlul Madînah mengeraskannya diantara nya adalah Az-Zuhrî, Robî’ah, dan disebutkan juga Ibnu ‘Abbâs dan Ibnu Az-Zubair.

Berkata Syaikhuna Muhammad bin Hizâm hafidzohullâh: “Dan melirihkan bacaan basmalah pada saat membaca Al-Fâtihah adalah pendapat yang benar, dan dimakruhkan untuk dikeraskan bagi yang berpendapat untuk melirihkan, dan ini pendapat yang dikuatkan oleh Asy-Syaikh Al-Albânî, Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Azîz Ibnu Bâz, Asy-Syaikh Muqbil, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimîn rohimahumullôh.”

Berkata Syaikh Al-‘Utsaimin rohimahullôh ketika ditanya: Apa Hukum mengeraskan basmalah? Beliau rohimahullôh menjawab: “Yang rôjih (kuat) bahwasanya mengeraskan basmalah tidak sepantasnya, dan sunnahnya melirihkannya, karena basmalah bukan termasuk dari surat Al-Fâtihah, akan tetapi kalau dia mengeraskannya kadang-kadang maka tidak ada dosa baginya, bahkan sebagian ahlul ‘ilmi mengatakan: “sepantasnya baginya untuk mengeraskannya sesekali, karena Nabi shollâllohu alaihi wa sallam telah diriwayatkan dari Nabi shollâllohu alaihi wa sallam: “bahwasanya Nabi shollâllohu alaihi wa sallam mengeraskannya.” Dan akan tetapi yang pasti dari Nabi shollâllohu alaihi wa sallam adalah Nabi shollâllohu alaihi wa sallam tidak mengeraskan basmalah. Dan yang lebih utama adalah tidak mengeraskannya. Dan tetapi kalau dia mengeraskannya untuk membuat lunak hati suatu kaum yang pendapat mereka mengeraskan basmalah, maka aku harap yang seperti ini tidak mengapa. [Fatâwâ Al-‘Aqîdah no.627]

Perkataan para ‘ulama tentang tidak menjahrkan basmalah ketika akan membaca Al-Fatihah:

Berkata Abû Wâ’il rodhiyaAllôhu anhu: Dahulu mereka tidak mengeraskan dengan bismillâhirrohmânirrohîm.

Berkata ‘Urwah bin Az-Zubair rohimahullôh: Aku menemui para Imâm-Imâm, dan mereka tidak membuka bacaannya kecuali dengan Alhamdulillâhi robbil ‘âlamîn. AR. Al-Atsrom.


Dan dari Al-A’roj rohimahullôh semisal dengan perkataan ‘Urwah.

Berkata An-Nakho’î rohimahullôh: aku tidak menemui salah seorang dari mereka mengeraskan Alhamdulillâhi robbil ‘âlamîn.

Dan darinya: Mengeraskannya adalah bid’ah.

Berkata ‘Ikrimah rohimahullôh: Saya seorang badui kalau mengeraskan dengan bismillâhirrohmânirrohîm.

Berkata Qotâdah rohimahullôh: Mengeraskan dengan “bismillâhir rohmânir rohîm”  orang badui.

Dari Ibnu ‘Abbâsب: Mengeraskan dengan “bismillâhir rohmânir rohîm”  bacaan orang badui.

Berkata Al-Hasan rohimahullôh: Mengeraskannya adalah orang badui.

Dari Al-Aswad rohimahullôh: Aku sholat dibelakang ‘Umar selama 70 sholât, maka aku tidak mendapatinya mengeraskan dengan “bismillâhir rohmânir rohîm” AR. Ibnu Abî Syaibah dengan sanad jayyid.

Berkata Wakî’ rohimahullôh: Jangan sholât dibelakang orang yang mengeraskan “bismillâhir rohmânir rohîm”

Berkata Ahmad rohimahullôh tentang sholât dibelakang orang yang mengeraskan “bismillâhir rohmânir rohîm”: Apabila dia melakukannya dengan menta’wilkan maka tidak mengapa, dan kalau tidak dengan demikian maka jangan sholât dibelakangnya.

Berkata Imam Ibnu Rojab rohimahullôh: Yang diisyaratkan sholât dibelakang yang mengeraskan adalah dari Ahlul ‘Ilmi dan Ahlul Hadîts, bukan orang yang mengeraskan dari Ahlul Ahwa yang mereka terkenal dengan mengeraskan bismillâhirrohmânirrohîm.

Dinuqilkan dari Shôlih bin Ahmad dari Bapaknya, berkata: Kami tidak berpendapat tentang jahr atau berqunut, maka kalau ada seseorang yang mengeraskannya maka dia bukanlah ahlul bid’ah, karena dia mengikuti apa yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbâs dan Ibnu ‘Umar, maka tidak mengapa sholât dibelakangnya dan qunut seperti ini.

Lihat semuanya dalam Fathul Bârî liibni Rojab (4/163/no.744)

[ 5 ] Permasalahan: Melafadzkan bacaan Al-Fatihah!!!

Telah diriwayatkan dari Abu Ma’mar rohimahullôh berkata: kami berkata kepada Khobbab bin Al-Arot rodhiyaAllôhu anhu: Apakah Rosululloh e membaca pada dzuhur dan ‘Ashr? Dia berkata: benar. Bagaimana kalian mengetahui bacaannya? Dia berkata: dengan bergerak-gerak jenggotnya. HSR. Al-Bukhori (no.761)

Berkata Ibnu Rojab rohimahullôh: “pada hadits-hadits ini menunjukkan bahwasanya bacaan yang dipelankan dilaksanakan dengan bergeraknya lisan dan kedua bibir, begitu juga dengan bergeraknya rambut jenggot. Dan ini adalah batasan yang harus dengannya dalam bacaan, berdzikir dan selain dari keduanya dari pembicaraan.

Dan ma’mum membaca Al-Fâtihah pada sholât sirriyah dan jahriyah karena ‘umûmnya hadîts diatas, dan ini adalah madzhab Al-Imâm Al-Bukhôrî, Al-Auza’î & ini pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Muqbil dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimîn rohimahumallôh.


[21:56 24/05/2015] فؤاد حسن الأندونيسي: [ 6 ] Permasalahan: Apabila Imâm tidak berhenti, maka kapan seorang ma’mum membaca Al-Fâtihah?

Jawab: maka bacalah Al-Fâtihah walaupun Imâm membaca, karena para shohâbat membaca bersama Rosûlullôh pada saat beliau membaca. [Fatâwâ Al-‘Aqîdah no.631, oleh Syaikh Al-‘Utsaimin rohimahullôh]

[ 7 ] Permasalahan: Kapan seorang seorang Ma’mum membaca Al-Fatihah ketika sholat, pada saat Imam membaca Al-Fatihah, atau ketika membaca surat?

Jawab: berkata Syaikh Al-‘Utsaimin rohimahullôh: “Yang lebih afdhol yakni seorang Ma’mum membaca Al-Fâtihah setelah Imam membaca surat, dikarenakan untuk memperhatikan bacaan yang wajib dan rukun,karena kalau senadainya Al-Fâtihah dibaca dan Imâm membaca Al-Fâtihah maka tidak bisa memerhatikan yang rukun, dan menjadi perhatiannya setelah Al-Fâtihah yakni yang tathowwu’ (sunnah), maka yang afdhol untuk diam serta memerhatikan bacaan Al-Fâtihah, karena mendengarkan bacaaan yang rukun (yakni Al-Fâtihah) lebih penting dari pada mendengarkan bacaan yang sunnah, ini dari satu sisi, dari sisi yang lain adalah bahwasanya Imam apabila membaca: “waladh dhôôllin” dan kamu tidak mengikutinya serta kamu tidak mengatakan: “Âmîîn”, maka sekarang kamu keluar dari jama’ah tersebut, maka yang afdhol adalah yang seperti yang diuraikan diatas. [Fatâwâ Al-‘Aqîdah no.632, oleh Syaikh Al-‘Utsaimin rohimahullôh]

[ 8 ] Permasalahan: Apakah boleh membaca Al-Fatihah tanpa menggunakan bahasa ‘Arob?

Adapun membaca Al-Fâtihah tanpa menggunakan bahasa ‘arob adalah tidak boleh dan ini adalah pendapat mayoritas ‘ulamâ (ini pendapat yang benar) berdalil dengan firman Allôh ta’ala:
{بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195)} [الشعراء: 195]
 “Dengan lisan ‘arob yang jelas.” [QS. Asy-Syu’aro’:195]

Dan Abu Hanifah rohimahullôh berpendapat tentang bolehnya membaca Al-Fâtihah ketika sholât tanpa bahasa ‘arob, dan berkata sebagian pengikutnya: bagi barang siapa yang tidak bisa membaca dengan baik. Dan yang benar adalah pendapat jumhur, karena Al-Qur’ân apabila diungkapkan lafadz-lafadznya dan keluar dari tatanan bahasanya tidak menjadi Al-Qur’ân dan tidak pula semisalnya, akan tetapi itu menjadi penjelas bagi Al-Qur’ân.
Dan membaca Al-Fâtihah adalah setelah membaca do’a Istiftah.

[ 9 ] Permasalahan: mengeraskan bacaan dalam sholât,

Berkata Al-Imâm An-Nawâwî rohimahullôh dalam Al-Majmû’ (3/389): “Menurut sunnah adalah mengeraskan pada dua roka’at sholât Shubuh, Maghrib, Isyâ’& sholat Jumu’ah. Dan melirihkan bacaan pada sholat Dzuhur, ‘Ashr, roka’at ketiga pada sholât maghrib & Isyâ’, roka’at keempat pada sholât Isya’. Dan semuanya itu dengan kesepakatan kaum muslimîn bersamaan dengan hadîts-hadîts yang shohîh.

[ 10 ] Permasalahan: Apakah disunnahkan bagi seorang yang sholât sendiri membaca dengan keras pada waktu sholat-sholat yang dikeraskan?

Jawab: disunnahkan baginya untuk mengeraskan menurut pendapat kebanyakan para ‘ulamâ. Lihat Al-Majmu’ (3/389).
[21:57 24/05/2015] فؤاد حسن الأندونيسي: [ 11 ] Permasalahan: Adapun ma’mûm tidak disunnahkan baginya untuk mengeraskan bacaan dan apabila dia mengeraskan bacaan maka itu makrûh baginya.

[ 12 ] Permasalahan: Adapun hukum mengeraskan bacaan pada sholât yang dikeraskan adalah sunnah, apabila seseorang meninggalkannya maka tidak membatalkan dan ini adalah pendapat mayoritas ‘ulamâ kecuali pendapat Ibnu Abî Laila yang dia berpendapat tentang batalnya dikarenakan meninggalkannya.

[13] Permasalahan: Apabila seseorang mengeraskan bacaan pada sholât yang dibaca dengan lirih, maka tidak ada kewajiban baginya sama sekali, sebagaimana telah diriwayatkan dari Anas, Alqomah bahwasanya mereka melakukan demikian dan mereka tidak melakukan sujûd sahwi, ini adalah pendapat Al-Auza’î, Asy-Syâfi’î dan Ahmad.

[14] Permasalahan: Apakah seorang perempuan mengeraskan bacaan pada sholât-sholât yang dikeraskan bacaannya? Jawab: Apabila seseorang perempuan itu sholât dalam keadaan sendiri atau dalam keadaan dia bersama dengan perempuan lainnya atau bersama dengan seorang laki-laki mahromnya, maka diperbolehkan baginya untuk mengeraskan bacaan sama saja apakah dia dalam keadaan sholât bersama dengan perempuan lainnya atau sendirian, apabila dia sholât yang ada seorang ajnabi (bukan mahromnya) maka dia sholât dengan melirihkan bacaan. Lihat Al-Majmû’ (3/390)

17 Jumadal Akhir 1430 Hijriyyah,

kalender


[10:03 23/05/2015] Abu Mush'ab Ahmad: Bismillaah apa hukum mengupdate penulisan nama bulan masehi seperti januari-desember? Ana pernah baca kalo itu adalah bentuk loyalitas terhadap syi'ar kuffar maka kita tdk boleh membantu menyebarkan syiar mereka,bagaimana pandangan ulama seputar masalah ini,jazaakalloohu khoiron.


[10:17 23/05/2015] Abu Fatih: FATWA ULAMA’ AHLUSSUNNAH TENTANG HUKUM MENGGUNAKAN KELENDER MASEHI

بسم الله الرحمن الرحيم

Fatwa al-Lajnah ad-Dâ`imah Lil Buhûtsil ‘Ilmiyyah Wal Iftâ` [komisi tetap untuk pembahasan ilmiah dan fatwa saudi ‘arabia]

Pertanyaan Ke-2 dari fatwa nomor 2072 Pertanyaaan :

Bolehkah berinteraksi dengan kalender masehi dengan orang-orang tidak mengetahui kalender hijriyah, seperti kaum muslimin non arab atau atau orang-orang kafir mitra kerja?

Jawaban :

Tidak boleh bagi kaum muslimin menggunakan kalender masehi karena sesungguhnya hal tersebut merupakan bentu tasyabbuh (menyerupai) [1] orang-orang nashara dan termasuk syiar agama mereka. Sebenarnya kaum muslimin, walhamdulillâh telah memiliki kalender yang telah mencukupi diri mereka yang mengaitkan mereka dengan Nabi mereka Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam sekaligus ini merupakan kemuliaan yang besar. Namun apabila ada suatu kebutuhan yang sangat terdesak maka boleh menggabung kedua kalender tersebut. Wabillahit Taufiq. Washallallâhu ‘ala Nabiyinâ Muhammad wa Âlihi wa Shabihi wa sallam

Al-Lajnah Ad-Dâ`imah Lil Buhûtsil ‘Ilmiyah Wal Iftâ`

Anggota :Bakr Abû Zaid Shâlih Al-Fauzân ‘Abdullâh bin Ghudayyân Wakil Ketua : ‘Abdul ‘Azîz Âlusy Syaikh

Ketua :‘Abdul Azîz Bin ‘Abdillâh bin Bâz

FATWA ASY-SYAIKH MUHAMMAD BIN SHÂLIH AL-’UTSAIMÎN -semoga Alloh merahmatinya-

Pertanyaan:

Fadhîlatusy Syaikh, pertanyaanku ini ada 2 hal. Yang pertama bahwa sebagian orang mengatakan kita tidak boleh mengedepankan kalender masehi daripada kalender hijriyyah, dasarnya adalah karena dikhawatirkan terjadinya loyalitas kepada orang-orang kafir. Akan tetapi kalender masehi lebih tepat dari pada kalender hijriyyah dari sisi yang lain. Mereka mengatakan sesungguhnya mayoritas negeri-negeri menggunakan kalender masehi ini sehingga kita tidak bisa untuk menyelisihi mereka.

Jawaban:

Bahwa realita penentuan waktu berdasarkan pada hilâl merupakan asal bagi setiap manusia, sebagaimana firman Allah subhanahu wa Ta’ala :

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

Mereka bertanya kepadamu tentang hilâl. Katakanlah: “Hilâl itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji; [Al Baqarah: 189]

Ini berlaku untuk semua manusia Dan bacalah firman Allah ‘Azza wa Jalla :

ِإِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَات وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah ketika Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.” [At Taubah: 36]

Bulan-bulan apakah itu? Maka tidak lain adalah bulan-bulan yang berdasarkan hilâl. Oleh karena itu NabiShalallahu ‘alaihi wasallam menafsirkan bahwasannya empat bulan tersebut adalah : Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Inilah yang merupakan pokok asal.

Adapun bulan-bulan yang ada di tengah-tengah manusia sekarang ini adalah bulan-bulan yang bersifat perkiraan dan tidak dibangun di atas dasar yang tepat. Kalau seandainya hal itu berdasarkan bintang niscaya hal itu ada dasarnya karena bintang sangat jelas keberadaannya di atas langit dan waktu-waktunya. Akan tetapi bulan-bulan yang didasarkan atas prasangka tersebut tidaklah memiliki dasar. Sebagai bukti, di antara bulan tersebut ada yang 28 hari dan sebagiannya 31 hari yang semua itu tidak ada dasarnya sama sekali. Akan tetapi apabila kita dihadapkan pada dilema berupa kondisi harus menyebutkan kalender masehi ini, maka kenapa kita harus berpaling dari kalender hijriyyah kemudian lebih memilih kalender yang sifatnya prasangka dan tidakmemiliki dasar tersebut?! Suatu hal yang sangat mungkin sekali bagi kita untuk menggunakan penanggalan hijriyyah ini kemudian kita mengatakan bahwa tanggal hijriyyah sekian bertepatan dengan tanggal masehi sekian. Karena melihat kebanyakan dari negeri-negeri Islam yang telah dikuasai oleh orang-orang kafir kemudian mereka merubah kalender hijriyyah tersebut kepada kelender masehi yang hakekatnya itu adalah dalam rangka untuk menjauhkan mereka dari perkara tersebut dan dalam rangka menghinakan mereka.

Maka kita katakan, apabila kita dihadapkan pada musibah yang seperti ini sehingga kita harus menyebutkan kalender masehi juga, maka jadikanlah yang pertama kali disebut adalah kalender hijriyyah terlebih dahulu kemudian kita katakan bahwa tanggal hijriyyah sekian bertepatan dengan tanggal masehi sekian.

Kemudian si penanya tadi mengatakan bahwa sisi yang kedua dari pertanyaan tersebut bahwa beberapa perusahaan mereka mengatakan bahwa kami tidak menggunakan kalender masehi ini untuk maksud berloyalitas kepada orang-orang kafir, akan tetapi karena keadaan perusahaan-perusahaan yang ada di dunia ini yang kita menjalin hubungan perdagangan bersamanya, menggunakan kalender masehi juga sehingga akhirnya kita pun mau tidak mau menggunakan kalender masehi juga. Kalau tidak maka disana ada suatu hal yang bisa memudharatkan diri kami baik dari hal-hal yang berkaitan dengan transaksi dagang dan sebagainya. Maka apa hukum permasalahan ini?

Jawabanya: Bahwa hukumnya adalah suatu yang mudah. Sebenarnya kita bisa menggabung antara keduanya. Misalnya engkau mengatakan bahwa aku dan fulan bersepakat dalam kesepakatan dagang pada hari ahad misalnya, yang hari tersebut bertepatan dengan bulan hijriyyah sekian, kemudian setelah itu baru kita sebutkan penanggalan masehinya, kira-kira mungkin tidak?

Penanya menjawab: Tentu, sesuatu yang mungkin. (Liqâ`âtul Bâbil Maftûh)

FATWA SYAIKH SHÂLIH BIN FAUZÂN AL-FAUZÂN -semoga Alloh menjaganya-

Pertanyaan:

Apakah menggunakan kalender masehi termasuk sebagai bentuk wala’ (loyalitas) terhadap Nashara?

Jawab :

Tidak termasuk sebagai bentuk loyalitas tetapi termasuk bentuk tasyabbuh (penyerupaan) dengan mereka (Nashara). Para shahabat pun tidak menggunakannya, padahal kalender masehi telah ada pada zaman tersebut. Bahkan mereka berpaling darinya dan menggunakan kalender hijriyyah. Ini sebagai bukti bahwa kaum muslimin hendaknya melepaskan diri dari adat kebiasaan orang-orang kafir dan tidak membebek kepada mereka. Terlebih lagi kalender masehi merupakan simbol agama mereka, sebagai bentuk pengagungan atas kelahiran Al-Masîh dan perayaan atas kelahiran tersebut yang biasa dilakukan pada setiap penghujung tahun (masehi). Ini adalah bid’ah yang diada-adakan oleh Nashara (dalam agama mereka).

Maka kita tidak ikut andil dengan mereka dan tidak menganjurkan hal tersebut sama sekali. Apabila kita menggunakan kalender mereka, berarti kita menyerupai mereka. Padahal kita -dan segala pujian bagi Allah semata- telah memiliki kalender hijriyyah yang telah ditetapkan oleh Amîrul Mu`minîn ‘Umar bin Al-Khaththâb bagi kita di hadapan para sahabat Muhajirin dan Anshar ketika itu. Maka ini sudah cukup bagi kita.

(Al-Muntaqâ min Fatâwa Al-Fauzân XVII / 5, fatwa no. 153 )

[1] Perbuatan tasyabbuh terhadap orang-orang kafir dilarang dalam Islam. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

« مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ »

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk kaum tersebut.” [HR. Ahmad II/50 dan Abû Dâwud no. 4031. dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albâni dalam Al-Irwâ` no. 1269]


Sumber: https://salafimedan.wordpress.com/2014/01/12/free-download-kalender-1435-hijriyah-2013-2014-masehi-fatwa-hukum-menggunakan-kalender-masehi/
Atau http://thibbalummah.wordpress.com/kalender-1435-hijriyah-2013-2014-masehi-fatwa-hukum-menggunakan-kalender-masehi/

bermanhaj salaf



 Bismillah assalamualaikum, mau tanya adakah artikel tulisan yang bertopik "kenapa harus bermanhaj" atau yang sejenis, yang menjelaskan haruslah bermanhaj. Sebagaimana kita ketahui, kaum muslimin (awam) hanya melihat dari luar saja (ustad) tanpa mengetahui apa yang dipahami (manhaj) dari sang ustad atau sang pemberi pencerahan atau ceramah.??  Na'am

‬Adapun hadits-hadits Rosulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang menunjukkan agar kita harus bermanhaj salaf adalah sebagai berikut:

1. Rosulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مَنْكُمْ بَعْدي فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا ، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَ سُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku, dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin yang terbimbing, berpeganglah erat-erat dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham…” (Shahih, HR. Abu Dawud, At Tirmidzi, Ad Darimi, Ibnu Majah dan lainnya dari shahabat Al ‘Irbadh bin Sariyah. Lihat Irwa’ul Ghalil, hadits no. 2455).

Dalam hadits ini dengan tegas dinyatakan bahwa kita akan menyaksikan perselisihan yang begitu banyak di dalam memahami dienul Islam, dan jalan satu-satunya yang mengantarkan kepada keselamatan ialah dengan mengikuti sunnah Rosulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin (Salafush Sholih). Bahkan Rosulullah ? memerintahkan agar kita senantiasa berpegang teguh dengannya.

Al Imam Asy Syathibi berkata: “Rosulullah shallallahu 'alaihi wasallam –sebagaimana yang engkau saksikan– telah merangkai “sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin” dengan “sunnah” beliau, dan bahwasanya diantara konsekuensi mengikuti sunnah beliau adalah mengikuti sunnah mereka…, yang demikian itu dikarenakan apa yang mereka sunnahkan benar-benar mengikuti Sunnah Nabi mereka atau mengikuti apa yang mereka pahami dari sunnah beliau shallallahu 'alaihi wasallam, baik secara global maupun secara rinci, yang tidak diketahui oleh selain mereka.” (Al I’tishom, 1/118).

2. Rosulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

لاَتَزَالُ طَائَفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَ هُمْ كَذَلِكَ

“Terus menerus ada sekelompok kecil dari umatku yang senantiasa tampil di atas kebenaran. Tidak akan memudhorotkan mereka orang-orang yang menghinakan mereka, sampai datang keputusan Allah dan mereka dalam keadaan seperti itu.” (Shahih, HR Al Bukhari dan Muslim, lafadz hadits ini adalah lafadz Muslim dari shahabat Tsauban, hadits no. 1920).

Al Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, berkata (tentang tafsir hadits diatas): “Kalau bukan Ahlul Hadits, maka aku tidak tahu siapa mereka?!” (Syaraf Ashhabil Hadits, karya Al Khotib Al Baghdadi, hal. 36).

Al Imam Ibnul Mubarok rahimahullah, Al Imam Al Bukhari rahimahullah, Al Imam Ahmad bin Sinan Al Muhaddits rahimahumullah, semua berkata tentang tafsir hadits ini: “Mereka adalah Ahlul Hadits.” (Syaraf Ashhabil Hadits, hal. 26,37).

Asy Syaikh Ahmad bin Muhammad Ad Dahlawi Al Madani berkata: “Hadits ini merupakan tanda dari tanda-tanda kenabian (Rosulullah shallallahu 'alaihi wasallam), didalamnya beliau telah menyebutkan tentang keutamaan sekelompok kecil yang senantiasa tampil diatas kebenaran, dan setiap masa dari jaman ini tidak akan lengang dari mereka. Beliau mendoakan mereka dan doa itupun terkabul. Maka Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan pada tiap masa dan jaman, sekelompok dari umat ini yang memperjuangkan kebenaran, tampil diatasnya dan menerangkannya kepada umat manusia dengan sebenar-benarnya keterangan. Sekelompok kecil ini secara yakin adalah Ahlul Hadits insya Allah, sebagaimana yang telah disaksikan sejumlah ulama yang tangguh, baik terdahulu ataupun dimasa kini.” (Tarikh Ahlil Hadits, hal 131)

Ahlul Hadits adalah nama lain dari orang-orang yang mengikuti manhaj salaf. Atas dasar itulah, siapa saja yang ingin menjadi bagian dari “kelompok kecil” yang disebut oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam hadits di atas, maka ia harus mengikuti manhaj salaf.

3. Rosulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

سَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثَةٍ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ

seputar sya'ban


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

PERMASALAHAN
SEPUTAR
BULAN SYA’BAN

[ 1 ] Asal penamaan bulan Sya’ban
Al-Hafidz rohimahulloh mengatakan:
«شَعْبَانُ الشَّهْرُ المَعْرُوفُ، قِيْلَ سُمِّيَ بِذَلِكَ لِتَشَعُّبِهِمْ فِيْهِ أَي لِتَفَرُّقِهِمْ»
“Sya’ban adalah (nama) bulan yang ma’ruf, ada yang mengatakan: di namakan dengan hal tersebut karena pada waktu itu mereka berpencar-pencar, yakni karena mereka berpisah-pisah.” [ lihat “Muqoddimah Al-Fath” (hal.135)]

«وَسُمِّيَ شَعْبَانُ لِتَشَعُّبِهِمْ فِي طَلَبِ المِيَاهِ أَو فِي الغَارَاتِ بَعْدَ أَنْ يَخْرُجَ شَهْرُ رَجَبِ الحَرَامِ، وَهَذَا أَولَى مِنَ الَّذِي قَبْلَهُ وَقِيْلَ فِيْهِ غَيْر ذَلِكَ».
“Dinamakan Sya’ban karena pada waktu itu mereka berpencar-pencar untuk mencari air atau penyerbuan kepada musuh selepas dari bulan harom Rojab. Ini yang lebih pas daripada sebelumnya, dan ada juga yang berpendapat selain dari ini.” [lihat “Fathul Bari” (4/213)]

 Al-‘Ainiy rohimahulloh mengatakan:
عَنْ ثَعْلَب كَانَ شَعْبَانُ شَهْرًا تَتَشَعَّبَ فِيْهِ القَبَائِلُ أَيّ تَتَفَرَّقَ لِقَصْدِ المُلُوكِ وَالتِمَاسِ العَطِيَّةَ».
“Dari Tsa’lab: Sya’ban adalah bulan yang para Qobilah-Qobilah berpencar untuk mendatangi raja-raja dan mencari pemberian.” [lihat “Umdatul Qori” (17/49)]

[ 2 ] Sya’ban adalah bulan yang padanya di angkat amalan seorang hamba.
عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ، لَمْ أَرَكَ تَصُومُ مِنْ شَهْرٍ مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ  قَالَ: «ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفَلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيْهِ الأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ العَالَمِينَ وَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ».
Dari Usamah bin Zaid rodhiyaAllohu berkata: aku berkata; Ya Rosululloh, aku tidaklah melihat engkau berpuasa pada bulan dari bulan-bulan sebelumnya seperti engkau berpuasa pada bulan Sya’ban. Beliau menjawab: “Itu adalah bulan yang kebanyakan manusia lalai darinya yaitu antara Rojab dan Romadhon. Dan ia adalah bulan yang di angkat amalan hamba kepada Robb semesta alam, dan aku menyukai di angkat amalanku dalam keadaan aku berpuasa.” [HR. An-Nasa’I, dan di hasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam “Shohih Targhib wa Tarhib” (no.1022)]

[ 3 ] Memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ
Dari ‘Aisyah rodhiyaAllohu anha mengatakan: “Tidaklah pernah aku melihat Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali pada Romadhon. Dan tidaklah pernah aku melihatnya lebih banyak berpuasa daripada ketika bulan Sya’ban.” [HR. Al-Bukhori (no.1969) Muslim]

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahulloh mengatakan:
«فَيَنْبَغِي الإِكْثَارُ مِنَ الصِّيَامِ فِي شَعْبَانَ».
“Sepantasnya untuk memperbanyak puasa di bulan Sya’ban.” [lihat “Liqoo Bab Maftuh” (9/453)]

Al-Hafidz Ibnu Rojab rohimahulloh mengatakan:
«وَقَدْ رَجَّحَ طَائِفَةٌ مِنَ العُلَمَاءِ مِنْهُمْ ابْنُ المُبَارَك وَ غَيْرُهُ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَسْتَكْمِلْ صِيَام شَعْبَانَ وَ إِنَّمَا كَانَ يَصُومُ أَكْثَرَهُ وَيَشْهَدُ لَهُ مَا فِي صَحِيْحِ مُسْلِمٍ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: مَا عَلِمْتُهُ تَعْنِي النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَامَ شَهْرًا كُلَّهُ إِلاَّ رَمَضَانَ «
“Dan telah di rojihkan oleh sekelompok dari ‘Ulama di antara mereka adalah Ibnul Mubarok dan selainnya: bahwasanya Nabi shollallohu alaihi wa sallam tidaklah puasa sebulan penuh pada bulan Sya’ban, akan tetapi beliau hanyalah kebnyakan apa yang di lakukannya adalah puasa, yang menguatkan hal tersebut adalah apa yang terdapat dalam shohih Muslim dari ‘Aisyah rodhiyaAllohu anha berkata: Aku tidaklah mengetahui -yakni Nabi shollallohu alaihi wa sallam- berpuasa sebulan penuh kecuali pada bulan Romadhon.” [Lihat “Latho’if Ma’arif” (hal.138)]

[ 4 ] Hikmah memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban.
Ash-Shon’ani mengatakan:
وَقِيلَ : كَانَ يَصُومُ ذَلِكَ تَعْظِيمًا لِرَمَضَانَ كَمَا أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ وَغَيْرِهِ { أَنَّهُ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الصَّوْمِ أَفْضَلُ فَقَالَ : شَعْبَانُ تَعْظِيمًا لِرَمَضَانَ } قَالَ التِّرْمِذِيُّ : فِيهِ صَدَقَةُ بْنُ مُوسَى وَهُوَ عِنْدَهُمْ لَيْسَ بِالْقَوِيِّ
“Ada yang mengatakan: Beliau melakukan puasa (Sya’ban) karena sebagai bentuk pengagungan bulan Romadhon, sebagaimana yang di keluarkan At-Tirmidzi  dari hadits Anas dan selainnya; bahwasanya beliau bertanya kepada Rosululloh tentang puasa apakah yang paling afdhol? Beliau menjawab: “Sya’ban, sebagai bentuk pengagungan Romadhon.” At-Tirmidzi mengatakan: “Terdapat pada sanadnya Shodaqoh bin Musa, di sisi mereka dia bukanlah orang yang kuat (dalam suatu sisi)” [Subulus Salam (3/358)]

وَقِيلَ : كَانَ يَصُومُهُ { ؛ لِأَنَّهُ شَهْرٌ يَغْفُلُ عَنْهُ النَّاسُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ } " كَمَا أَخْرَجَهُ النَّسَائِيّ وَأَبُو دَاوُد وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ : { قُلْت : يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَك تَصُومُ فِي شَهْرٍ مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ فِي شَعْبَانَ قَالَ : ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ فِيهِ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ .قُلْت : وَيُحْتَمَلُ أَنَّهُ كَانَ يَصُومُهُ لِهَذِهِ الْحِكَمِ كُلِّهَا
“Ada yang mengatakan juga: Beliau puasa pada bulan tersebut (Sya’ban), karena itu adalah bulan yang manusia lalai padanya, (karena) di antara Rojab dan Romadhon. Sebagaimana di keluarkan An-Nasa’I Abu Dawud serta dishohihkan oleh Ibnu Khuzaimah dari Usamah bin Zaid aku berkata; Ya Rosululloh, aku tidaklah melihat engkau berpuasa pada bulan dari bulan-bulan sebelumnya seperti engkau berpuasa pada bulan Sya’ban. Beliau menjawab: “Itu adalah bulan yang kebanyakan manusia lalai darinya yaitu antara Rojab dan Romadhon. Dan ia adalah bulan yang di angkat amalan hamba kepada Robb semesta alam, dan aku menyukai di angkat amalanku dalam keadaan aku berpuasa.” Aku katakan: “Dan ini mungkin beliau melakukan puasa bulan Sya’ban karena sebab semua hikmah-hikmah tersebut.” [lihat “Subulus Salam” (3/359)]

[ 5 ] Puasa tathowu’ di bulan Sya’ban tidaklah ada kaitan pada waktu tertentu.
Al-‘Ainiy mengatakan:
«الأَعْمَالُ الَّتِي يَتَطَوَّعُ بِهَا لَيْسَتْ مَنُوطَةٌ بِأَوقَاتٍ مَعْلُومَةٍ وَإِنَّمَا هِيَ عَلَى قَدْرِ الإِرَادَةِ لَهَا وَالنَّشَاطِ فِيْهَا».
“Amalan yang seseorang berbuat tathuwu’ padanya tidaklah ada terkait dengan waktu yang maklum, akan tetapi ia berdasarkan keinginan untuk melakukan hal tersebut dan semangat pada waktu itu.” [lihat “Umdatul Qori” (17/52)]