[19:19 24/05/2015] +62 878-3548-4507: ada soal ustadz .
mhon faedahnya
apakah makmum membaca fatihah dibelakang imam yang sholat jahr ?
[21:56 24/05/2015] فؤاد حسن الأندونيسي: CATATAN SEPUTAR AL-FATIHAH
[ 1 ] Hukum membaca Al-Fâtihah adalah rukun dari rukun-rukun sholât dan diwajibkan pada setiap roka’at, berdasarkan hadits ‘Ubâdah bin Ash-Shômit rodhiyaAllôhu anhu, bahwasanya Rosûlullôh shollâllohu alaihi wa sallam bersabda:
﴿ لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ ﴾
“Tidak dianggap sholât bagi orang yang tidak membaca surat Al-Fâtihah.” [HR. Al-Bukhôrî (no.756) Muslim (no.394) Al-Humaidi (no.386) Ahmad (5/314) Abu Dawud (no.822) An-Nasa’I (2/137) Ibnu Majah (no.837) Ad-Darimi (1/283) Ibnu Khuzaimah (no.488) Ad-Daruquthni (1/321) Abu ‘awwanah (2/124-125) Al-Baihaqi “dalam sunan” (2/34) Al-Baghowi (no.576) Asy-Syâfi’î dalam “Al-Umm” (no.206) dan dalam “Musnad”nya (1/75) dari jalur Az-Zuhri dari Mahmud bin Ar-Robi’, dari ‘Ubbadah bin Ash-Shomit secara marfu’.]
Berkata Abû ‘Umar Ibnu ‘Abdil Bar Al-Andalusî a: “Maka ditetapkan dengan nash ini tentang wajibnya membaca Al-Fâtihah pada setiap sholât bagi siapa saja yang mampu melakukannya.” lihat At-Tamhîd (3/157)
Makna sabda Nabi shollâllohu alaihi wa sallam “Lâ Sholâta”: “yakni mencakup semua sholât, yang wajib maupun yang sunnah, dan sholât yang mempunyai rukû’, begitu pula sholât yang tidak ada rukû’ dan sujûd, misalkan sholât jenazah.” Lihat Syarh Al-Bukhôrî, Syaikh ‘Utsaimîn (3/240)
[ 2 ] Permasalahan: Apakah diwajibkan membaca Al-Fâtihah pada setiap roka’at? Telah berpendapat mayoritas ‘ulamâ tentang wajibnya membaca Al-Fâtihah pada setiap roka’at, mereka berdalîl dengan hadîts yang mengkisahkan orang yang jelek sholâtnya, dan Nabi shollâllohu alaihi wa sallam bersabda:
﴿… ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِيْ صَلاَتِكَ كُلِّهَا ﴾
“Kemudian kamu melakukan yang demikian itu pada sholâtmu seluruhnya.” HR. Al-Bukhôrî (no.715) Muslim (no.397) Ahmad (no.9352) Abû Dâwud (no.856) At-Tirmidzî (no.303) An-Nasâ’î (no.884) Ibnu Mâjah (no.1060)
Adapun makna sabda Nabi shollâllohu alaihi wa sallam: “Tsummaf‘al dzâlika” yang diisyaratkan didalamnya adalah membaca bacaan dalam sholât, rukû’, bangkit dari rukû’, sujûd, bangkit dari rukû’, sujûd kedua kalinya, kemudian bangkit untuk berdiri, adapun takbîr itu tidak masuk kedalamnya karena hanya untuk ihrôm (pengharoman) saja. Lihat Fath Dzil Jalâli wal Ikrôm, Syaikh ‘Utsaimîn (3/12-13)
Dan berpendapat Ibrôhîm An-Nakho’î, Ats-Tsaurî dan Abû Hanîfah tentang tidak wajibnya membacanya kecuali pada dua roka’at yang awal sebagaimana diriwayatkan dari ‘Alî rodhiyaAllôhu anhu bahwasanya dia berkata:
﴿اقْرَأْ فِيْ الأُولَيَيْنِ وَسَبِّحْ فِي الأُخَرَيَيْنِ﴾
“Bacalah pada dua yang awal dan bertasbihlah pada dua yang terakhir.” Dan pendapat yang benar adalah pendapat jumhûr, dan yang menguatkan pendapat jumhur adalah hadits Abu Qotadah:
أَنَّ النَّبِيَّ eكَانَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ فِيْ الأُوْلَيَيْنِ بِأُمِّ الكِتَابِ وَسُوْرَتَيْنِ وَفِيْ الرَّكْتَعَيْنِ الأُخْرَيَيْنِ بِأُمِّ الكِتَابِ ، وَيُسْمِعْنَا الآيَةَ ، وَيُطَوِّلُ فِي الرَّكْعةِ الأُولَى مَالاَ يُطَوِّلُ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ، هَكَذَا فِي العَصْرِ، وَهَكَذَا فِي الصُّبْحِ
“Bahwasanya dulu Nabi shollâllohu alaihi wa sallam membaca pada sholât dzuhur pada dua roka’at yang awal dengan Al-Fâtihah dan dua surat, dan pada dua roka’at yang terakhir membaca dengan Al-Fâtihah, dan terkadang-kadang beliau memperdengarkan kepada kami ayat, dan beliau memanjangkan roka’at pertama yang mana tidak memperpanjangnya pada roka’at kedua, dan ini beliau lakukan pada sholât Ashr dan begitu juga sholât shubuh.” HR. Al-Bukhôrî (no.776) dan ini lafadznya. Muslim (no.451)
[ 3 ] Permasalahan: Hukum membaca Al-Fâtihah bagi ma’mûm!!! Pada permasalahan ini ada 3 pendapat;
(A) Seorang ma’mum tidak membaca sekali, sama saja apakah dia disaat sholât siriyyah (tidak dikeraskan) atau jahriyah (yang dikeraskan) sebagaimana hadîts Jâbir:
﴿مَنْ كَانَ لَهُ إِمَامٌ فَإِنَّ قِرَاءَةَ الإِمَامِ لَهُ قِرَاءَةً﴾
“Barang siapa yang ada padanya seorang Imâm, maka bacaan Imâm adalah bacaannya.” HR. Ibnu Mâjah (no.850) Dan ini adalah pendapat Sufyân Ats-Tsaurî, kebanyakan dari Ashhâbul Kûfah, dan ini adalah madzhab Abû Hanîfah.
(B) Bahwasanya seorang ma’mûm membaca pada sholât siriyyah, dan tidak membaca Al-Fâtihah pada sholât jahriyah, berdalîlkan dengan firman Allôh ta’ala:
{وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (204)} [الأعراف: 204]
“Dan apabila dibacakan Al-Quran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” [QS. Al-A’rof:204]
ini adalah pendapat Az-Zuhrî, Mâlik, ‘Abdullôh bin Al-Mubârok, Ahmad bin Hanbal, Ishâq, Asy-Syâfi’î dalam “Al-Qodîm”, Muhammad murid Abî Hanîfah dan ini yang dipilih oleh Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyyah rohimahullôh.
(3) Bahwasanya Ma’mûm membaca pada sholât siriyyah serta membaca Al-Fâtihah pada sholât jahriyah dengan keumuman hadîts-hadîts tentang permasalahan ini, ini adalah pendapat Makhûl, Al-Auza’î, Ibnu ‘Aun, Al-Auza’î, Abî Tsaur dan ini madzhab Al-Bukhôrî.
Berkata Syaikhuna Muhammad bin Hizâm hafidzohullâh: “Pendapat yang terakhir adalah pendapat yang benar dengan dalîl hadîts-hadîts pada babnya, dan adapun dalîl pendapat pertama adalah lemah, datang dari jalur Jâbir Al-Ju’fî dan dia adalah pendusta, dan datang dari jalur lain dengan mursal, berkata Al-Hâfidz Ibnu Katsîr tdalam tafsîrnya: “Hadîts ini datang dari jalur-jalur yang tidak sah didalamnya dari Nabi shollâllohu alaihi wa sallam. Dan adapun dalîl pendapat kedua adalah umum dan dalîl kami adalah khusus, dan tidak memalingkan antara umum dan khusus, dan telah dikuatkan pendapat ketiga oleh Syaikh kami Muqbil Al-Wâdi’î rohimahullôh dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimîn rohimahullôh. (Selesai)
Akan tetapi dalîl pendapat pertama dihasankan oleh Syaikh Al-Albânî dalam sunan Ibnu Mâjah (no.850) dan datang dengan mursal dari ‘Abdullôh bin Syaddâd. Dan telah ada nash dari Asy-Syâfi’î rohimahullôh tentang bolehnya menggunakan mursal semacam ini sebagai hujjah. Lihat Ashl Shifat (1/345)
[ 4 ] Permasalahan: Melirihkan atau mengeraskan basmalah ketika akan membaca Al-Fâtihah?
Pada permasalahan ini adalah yang terbanyak perselisihannya diantara para ahli fiqh, sampai mereka membuat kitâb-kitâb, diantaranya adalah Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibbân, Ad-Dâruquthnî, Al-Baihaqî, Ibnu ‘Abdil Barr dan lain-lainnya.
[A] Dan pendapat yang mengatakan untuk melirihkan adalah pendapat kebanyakan ahlul ‘ilmi dari shohâbat Nabi rodhiahullôhu anhum diantaranya Abû Bakr, ‘Umar, ‘Utsmân, ‘Alî dan selain mereka, dan dari setelahnya dari Tâbi’în, dan ini juga pendapat Sufyân Ats-Tsaurî, Ibnul Mubârok, Ahmad, Ishâq, Abî ‘Ubaid.
[B] Dan pendapat yang mengeraskan adalah pendapat Asy-Syâfi’î beserta pengikutnya, Abû Tsaur, Al-Laits bin Sa’ad, Makhûl, ‘Umar bin ‘Abdil ‘Azîz, Muhammad bin Ka’ab Al-Qurdzî, berkata Al-Baihaqî: kami meriwayatkan dari Fuqohâ’ Makkah adalah ‘Athô’, Thôwûs, Mujâhid dan Sa’îd bin Jubair, berkata Imâm Ahmad: kebanyakan ahlul Madînah mengeraskannya diantara nya adalah Az-Zuhrî, Robî’ah, dan disebutkan juga Ibnu ‘Abbâs dan Ibnu Az-Zubair.
Berkata Syaikhuna Muhammad bin Hizâm hafidzohullâh: “Dan melirihkan bacaan basmalah pada saat membaca Al-Fâtihah adalah pendapat yang benar, dan dimakruhkan untuk dikeraskan bagi yang berpendapat untuk melirihkan, dan ini pendapat yang dikuatkan oleh Asy-Syaikh Al-Albânî, Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Azîz Ibnu Bâz, Asy-Syaikh Muqbil, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimîn rohimahumullôh.”
Berkata Syaikh Al-‘Utsaimin rohimahullôh ketika ditanya: Apa Hukum mengeraskan basmalah? Beliau rohimahullôh menjawab: “Yang rôjih (kuat) bahwasanya mengeraskan basmalah tidak sepantasnya, dan sunnahnya melirihkannya, karena basmalah bukan termasuk dari surat Al-Fâtihah, akan tetapi kalau dia mengeraskannya kadang-kadang maka tidak ada dosa baginya, bahkan sebagian ahlul ‘ilmi mengatakan: “sepantasnya baginya untuk mengeraskannya sesekali, karena Nabi shollâllohu alaihi wa sallam telah diriwayatkan dari Nabi shollâllohu alaihi wa sallam: “bahwasanya Nabi shollâllohu alaihi wa sallam mengeraskannya.” Dan akan tetapi yang pasti dari Nabi shollâllohu alaihi wa sallam adalah Nabi shollâllohu alaihi wa sallam tidak mengeraskan basmalah. Dan yang lebih utama adalah tidak mengeraskannya. Dan tetapi kalau dia mengeraskannya untuk membuat lunak hati suatu kaum yang pendapat mereka mengeraskan basmalah, maka aku harap yang seperti ini tidak mengapa. [Fatâwâ Al-‘Aqîdah no.627]
Perkataan para ‘ulama tentang tidak menjahrkan basmalah ketika akan membaca Al-Fatihah:
• Berkata Abû Wâ’il rodhiyaAllôhu anhu: Dahulu mereka tidak mengeraskan dengan bismillâhirrohmânirrohîm.
• Berkata ‘Urwah bin Az-Zubair rohimahullôh: Aku menemui para Imâm-Imâm, dan mereka tidak membuka bacaannya kecuali dengan Alhamdulillâhi robbil ‘âlamîn. AR. Al-Atsrom.
• Dan dari Al-A’roj rohimahullôh semisal dengan perkataan ‘Urwah.
• Berkata An-Nakho’î rohimahullôh: aku tidak menemui salah seorang dari mereka mengeraskan Alhamdulillâhi robbil ‘âlamîn.
• Dan darinya: Mengeraskannya adalah bid’ah.
• Berkata ‘Ikrimah rohimahullôh: Saya seorang badui kalau mengeraskan dengan bismillâhirrohmânirrohîm.
• Berkata Qotâdah rohimahullôh: Mengeraskan dengan “bismillâhir rohmânir rohîm” orang badui.
• Dari Ibnu ‘Abbâsب: Mengeraskan dengan “bismillâhir rohmânir rohîm” bacaan orang badui.
• Berkata Al-Hasan rohimahullôh: Mengeraskannya adalah orang badui.
• Dari Al-Aswad rohimahullôh: Aku sholat dibelakang ‘Umar selama 70 sholât, maka aku tidak mendapatinya mengeraskan dengan “bismillâhir rohmânir rohîm” AR. Ibnu Abî Syaibah dengan sanad jayyid.
• Berkata Wakî’ rohimahullôh: Jangan sholât dibelakang orang yang mengeraskan “bismillâhir rohmânir rohîm”
• Berkata Ahmad rohimahullôh tentang sholât dibelakang orang yang mengeraskan “bismillâhir rohmânir rohîm”: Apabila dia melakukannya dengan menta’wilkan maka tidak mengapa, dan kalau tidak dengan demikian maka jangan sholât dibelakangnya.
• Berkata Imam Ibnu Rojab rohimahullôh: Yang diisyaratkan sholât dibelakang yang mengeraskan adalah dari Ahlul ‘Ilmi dan Ahlul Hadîts, bukan orang yang mengeraskan dari Ahlul Ahwa yang mereka terkenal dengan mengeraskan bismillâhirrohmânirrohîm.
• Dinuqilkan dari Shôlih bin Ahmad dari Bapaknya, berkata: Kami tidak berpendapat tentang jahr atau berqunut, maka kalau ada seseorang yang mengeraskannya maka dia bukanlah ahlul bid’ah, karena dia mengikuti apa yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbâs dan Ibnu ‘Umar, maka tidak mengapa sholât dibelakangnya dan qunut seperti ini.
Lihat semuanya dalam Fathul Bârî liibni Rojab (4/163/no.744)
[ 5 ] Permasalahan: Melafadzkan bacaan Al-Fatihah!!!
Telah diriwayatkan dari Abu Ma’mar rohimahullôh berkata: kami berkata kepada Khobbab bin Al-Arot rodhiyaAllôhu anhu: Apakah Rosululloh e membaca pada dzuhur dan ‘Ashr? Dia berkata: benar. Bagaimana kalian mengetahui bacaannya? Dia berkata: dengan bergerak-gerak jenggotnya. HSR. Al-Bukhori (no.761)
Berkata Ibnu Rojab rohimahullôh: “pada hadits-hadits ini menunjukkan bahwasanya bacaan yang dipelankan dilaksanakan dengan bergeraknya lisan dan kedua bibir, begitu juga dengan bergeraknya rambut jenggot. Dan ini adalah batasan yang harus dengannya dalam bacaan, berdzikir dan selain dari keduanya dari pembicaraan.
Dan ma’mum membaca Al-Fâtihah pada sholât sirriyah dan jahriyah karena ‘umûmnya hadîts diatas, dan ini adalah madzhab Al-Imâm Al-Bukhôrî, Al-Auza’î & ini pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Muqbil dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimîn rohimahumallôh.
[21:56 24/05/2015] فؤاد حسن الأندونيسي: [ 6 ] Permasalahan: Apabila Imâm tidak berhenti, maka kapan seorang ma’mum membaca Al-Fâtihah?
Jawab: maka bacalah Al-Fâtihah walaupun Imâm membaca, karena para shohâbat membaca bersama Rosûlullôh pada saat beliau membaca. [Fatâwâ Al-‘Aqîdah no.631, oleh Syaikh Al-‘Utsaimin rohimahullôh]
[ 7 ] Permasalahan: Kapan seorang seorang Ma’mum membaca Al-Fatihah ketika sholat, pada saat Imam membaca Al-Fatihah, atau ketika membaca surat?
Jawab: berkata Syaikh Al-‘Utsaimin rohimahullôh: “Yang lebih afdhol yakni seorang Ma’mum membaca Al-Fâtihah setelah Imam membaca surat, dikarenakan untuk memperhatikan bacaan yang wajib dan rukun,karena kalau senadainya Al-Fâtihah dibaca dan Imâm membaca Al-Fâtihah maka tidak bisa memerhatikan yang rukun, dan menjadi perhatiannya setelah Al-Fâtihah yakni yang tathowwu’ (sunnah), maka yang afdhol untuk diam serta memerhatikan bacaan Al-Fâtihah, karena mendengarkan bacaaan yang rukun (yakni Al-Fâtihah) lebih penting dari pada mendengarkan bacaan yang sunnah, ini dari satu sisi, dari sisi yang lain adalah bahwasanya Imam apabila membaca: “waladh dhôôllin” dan kamu tidak mengikutinya serta kamu tidak mengatakan: “Âmîîn”, maka sekarang kamu keluar dari jama’ah tersebut, maka yang afdhol adalah yang seperti yang diuraikan diatas. [Fatâwâ Al-‘Aqîdah no.632, oleh Syaikh Al-‘Utsaimin rohimahullôh]
[ 8 ] Permasalahan: Apakah boleh membaca Al-Fatihah tanpa menggunakan bahasa ‘Arob?
Adapun membaca Al-Fâtihah tanpa menggunakan bahasa ‘arob adalah tidak boleh dan ini adalah pendapat mayoritas ‘ulamâ (ini pendapat yang benar) berdalil dengan firman Allôh ta’ala:
{بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195)} [الشعراء: 195]
“Dengan lisan ‘arob yang jelas.” [QS. Asy-Syu’aro’:195]
Dan Abu Hanifah rohimahullôh berpendapat tentang bolehnya membaca Al-Fâtihah ketika sholât tanpa bahasa ‘arob, dan berkata sebagian pengikutnya: bagi barang siapa yang tidak bisa membaca dengan baik. Dan yang benar adalah pendapat jumhur, karena Al-Qur’ân apabila diungkapkan lafadz-lafadznya dan keluar dari tatanan bahasanya tidak menjadi Al-Qur’ân dan tidak pula semisalnya, akan tetapi itu menjadi penjelas bagi Al-Qur’ân.
Dan membaca Al-Fâtihah adalah setelah membaca do’a Istiftah.
[ 9 ] Permasalahan: mengeraskan bacaan dalam sholât,
Berkata Al-Imâm An-Nawâwî rohimahullôh dalam Al-Majmû’ (3/389): “Menurut sunnah adalah mengeraskan pada dua roka’at sholât Shubuh, Maghrib, Isyâ’& sholat Jumu’ah. Dan melirihkan bacaan pada sholat Dzuhur, ‘Ashr, roka’at ketiga pada sholât maghrib & Isyâ’, roka’at keempat pada sholât Isya’. Dan semuanya itu dengan kesepakatan kaum muslimîn bersamaan dengan hadîts-hadîts yang shohîh.
[ 10 ] Permasalahan: Apakah disunnahkan bagi seorang yang sholât sendiri membaca dengan keras pada waktu sholat-sholat yang dikeraskan?
Jawab: disunnahkan baginya untuk mengeraskan menurut pendapat kebanyakan para ‘ulamâ. Lihat Al-Majmu’ (3/389).
[21:57 24/05/2015] فؤاد حسن الأندونيسي: [ 11 ] Permasalahan: Adapun ma’mûm tidak disunnahkan baginya untuk mengeraskan bacaan dan apabila dia mengeraskan bacaan maka itu makrûh baginya.
[ 12 ] Permasalahan: Adapun hukum mengeraskan bacaan pada sholât yang dikeraskan adalah sunnah, apabila seseorang meninggalkannya maka tidak membatalkan dan ini adalah pendapat mayoritas ‘ulamâ kecuali pendapat Ibnu Abî Laila yang dia berpendapat tentang batalnya dikarenakan meninggalkannya.
[13] Permasalahan: Apabila seseorang mengeraskan bacaan pada sholât yang dibaca dengan lirih, maka tidak ada kewajiban baginya sama sekali, sebagaimana telah diriwayatkan dari Anas, Alqomah bahwasanya mereka melakukan demikian dan mereka tidak melakukan sujûd sahwi, ini adalah pendapat Al-Auza’î, Asy-Syâfi’î dan Ahmad.
[14] Permasalahan: Apakah seorang perempuan mengeraskan bacaan pada sholât-sholât yang dikeraskan bacaannya? Jawab: Apabila seseorang perempuan itu sholât dalam keadaan sendiri atau dalam keadaan dia bersama dengan perempuan lainnya atau bersama dengan seorang laki-laki mahromnya, maka diperbolehkan baginya untuk mengeraskan bacaan sama saja apakah dia dalam keadaan sholât bersama dengan perempuan lainnya atau sendirian, apabila dia sholât yang ada seorang ajnabi (bukan mahromnya) maka dia sholât dengan melirihkan bacaan. Lihat Al-Majmû’ (3/390)
17 Jumadal Akhir 1430 Hijriyyah,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar